<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="935">
 <titleInfo>
  <title>Dimensi Simbolik Sape Dayak Kayaan dalam Terang Filsafat Estetika Susanne K. Langer</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>1. Pius Pandor, Lic.Phil.</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Additional Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>2. Prof. Dr. FX. Eko Armada Riyanto</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Additional Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Siong</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Additional Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Malang</placeTerm>
   <publisher>STFT Widya Sasana</publisher>
   <dateIssued>2018</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Text</form>
  <extent>ix + 99hlm: 21x28cm</extent>
 </physicalDescription>
 <note>Suku Dayak Kayaan memiliki kesenian yang kaya akan makna simbolik. Salah satu kekayaan makna simbolik ini dapat ditemukan dalam alat musik sape’. Sape’ merupakan alat musik petik bersenar rotan orang Dayak Kayaan. Semula sape’ digunakan untuk mengiringi doa, tarian wanita, hiburan di waktu senggang dan untuk mengekspresikan kreativitas orang Kayaan. Sape’ yang dimaksud adalah sape’ tradisional. Sape’ ini memiliki dua senar. Senar yang digunakan adalah rotan. Sape’ inilah yang kemudian menjadi cikal bakal dari sape’-sape’ modern. Keberadaan sape’ tradisional memang terkesan sebagai alat musik kuno, tetapi sape’ menyimpan kearifan lokal yang menjadi pegangan hidup masyarakat Dayak, khususnya Dayak Kayaan dan Kenyah. Para pemuda Dayak Kayaan sendiri berusaha untuk membuat inovasi terhadap sape’ tradisional. Melalui bentuk motif yang menarik, sape’ modern dimodifikasi sesuai dengan perkembangan zaman. Dalam menggali kekayaan makna simbolik dari sape’, Susanne. K. Langer beranggapan bahwa simbol merupakan seluruh kegiatan mental manusia. Artinya, sape’ mengarahkan manusia dalam dua dimensi, yaitu dimensi vertikal dan dimensi horisontal. Dimensi vertikal berkaitan dengan relasi manusia dengan yang tertinggi. Sedangkan dimensi horisontal tertuju pada relasi antara manusia dengan manusia dan manusia dengan alam. Dalam hal ini Langer tentu kurang sependapat dengan Aristoteles yang berpandangan bahwa karya seni hanyalah imitasi atas apa yang dialami oleh manusia. Langer lebih melihat karya seni khususnya sape’ sebagai kreasi, logika simbolis, living form, virtual space, dan simbol presentasional. Orang Dayak umumnya, khususnya Dayak Kayaan sempat melupakan alat musik sape’, sehingga sape’ tidak banyak dikenal kaum muda. Lebih serius lagi bahwa sape’ tidak ada regenerasi pembuat dan pemainnya. Hal ini tidak lain adalah akibat dari modernisasi yang merambah ke dalam sendi-sendi kehidupan sosial mereka. Dengan pola hidup yang semakin modern tanpa disadari mereka telah terjerumus ke dalam sikap apatis dan acuh terhadap hal-hal yang bernuansa tradisional. Sikap seperti itu perlu direfleksikan. Mengapa perlu merefleksikan hidup? Sebab tanpa refleksi akan hidup orang akan mudah jatuh pada sikap antrofomorfisme dan ideologi-ideologi modern lainnya. Dimana tanpa berpikir panjang orang dapat saja dengan mudah mereduksi segala sesuatu pada tatanan manusiawi semata. Sehingga yang terjadi adalah disorientasi hidup. Hal ini tidak menutup kemungkinan akan membuyarkan makna hidup manusia dan relasionalitasnya yang mendalam dan menyeluruh dengan sesama lingkungannya. Dalam kerangka refleksi akan hidup, terutama kebudayaan lokal yang sedang terkikis modernisasi generasi milineal mesti memiliki kesadaran etis yang mengakar pada budayanya sendiri tanpa bersikap apatis terhadap fenomena keseharian yang ada sebagai sarana untuk dapat sampai kepada penemuan makna simbolis dari segala sesuatu yang ada.</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <subject authority="">
  <topic>kebudayaan Dayak</topic>
 </subject>
 <subject authority="">
  <topic>SKRIPSI 2018</topic>
 </subject>
 <classification>959.84</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>PERPUSTAKAAN STFT WIDYA SASANA Jln. Terusan Rajabasa 2 Malang</physicalLocation>
  <shelfLocator>959.84 Sio d</shelfLocator>
  <holdingSimple>
   <copyInformation>
    <numerationAndChronology type="1">14.011</numerationAndChronology>
    <sublocation>Perpustakaan STFT</sublocation>
    <shelfLocator>959.84 Sio d</shelfLocator>
   </copyInformation>
  </holdingSimple>
 </location>
 <slims:image>Cover_SKRIPSI_baru.jpg.jpg</slims:image>
 <recordInfo>
  <recordIdentifier>935</recordIdentifier>
  <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2019-11-07 18:21:44</recordCreationDate>
  <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2020-09-19 11:20:08</recordChangeDate>
  <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
 </recordInfo>
</mods>
</modsCollection>