<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="931">
 <titleInfo>
  <title>Makna Etis Tradisi Upacara Dewi Wulu Masyarakat Lamaholot</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>2. Dr. Sermada Kelen Donatus, M.A.</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Additional Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>1. Pius Pandor, Lic.Phil.</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Additional Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Kedang, Stanislaus Nara</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Additional Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Malang</placeTerm>
   <publisher>STFT Widya Sasana</publisher>
   <dateIssued>2018</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Text</form>
  <extent>vi; 135hlm: 21x28cm</extent>
 </physicalDescription>
 <note>Kearifan lokal (local wisdom) adalah kepintaran, kecerdasan, filsafat, pandangan yang merupakan produk berabad-abad nenek moyang yang melukiskan kedalaman batin dan keluasan relasionalitas dan cetusan rasionalitas. Cetusan kesadaran relasionalitas dan rasionalitas ada dalam aneka bentuk budaya seperti ritual adat, mitos, legenda, bahasa syair, simbol bangunan atau alam lain. Salah satu budaya yang memiliki kebijaksanaan yang menjadi fokus tulisan ini adalah tradisi upacara Dewi Wulu Desa Riangrita Kecamatan Ile Bura, Kabupaten Flores Timur-Nusa Tenggara Timur yang juga penganut budaya Lamaholot. Menurut sejarah, patung Dewi Wulu ini ditemukan oleh Rukarogan Temu ketika berburu di hutan rimba bersama dengan anjing-anjingnya. Ketika berhadapan dengan patung yang terbuat dari perunggu ini, Dewi Wulu berpesan untuk meletakkannya di hutan dan apabila membutuhkan hujan datanglah kepadaku. Kehadirannya dalam sosok sedang menyusui dan menenun menegaskan hakekat seorang ibu yang memberi hidup dan perlindungan bagi anaknya. Karakter demikian menunjukkan sosok Ilahi, Yang-Tak-Terbatas yang dalam tradisi Lamaholot disebut Lera Wulang Tana Ékang. Oleh karenanya setiap kali mengalami kemarau panjang masyarakat setempat melakukan ritual adat di kampung lama Leworita. Upacara ini dipimpin oleh Suku Temu sebagai tuan tanah/suku kepala (Suku Koten) dan dibantu oleh Suku Mukin (Suku Kélén), Suku Witi (Suku Hurint) dan Suku Blolon (Suku Maran) serta dihadiri juga warga setempat dan suku-suku lain yang memiliki hubungan kekerabatan dan keyakinan yang sama, misalnya kampung Riangbunga, Lewotobi dan Lewouran. Upacara ini dilandasi semangat gemohing/gotong royong dalam keutamaan gelekat lewo gewayan tana/servi nagi tana (melayani kampung, mendampingi tanah). Tradisi upacara Dewi Wulu bukan sebuah ritual tanpa atau hampa makna, melainkan memiliki kedalaman dan keluasan makna etis. Perkara nilai etis ini berkaitan dengan perilaku, tindakan yang memperjuangkan nilai-nilai kehidupan bersama yang memeluk nilai etis persaudaraan dan kerja sama, keterampilan, kesenangan dan kebahagiaan, kebenaran dan keadilan serta nilai etis religius. Produk nilai etis ini menunjukkan karakter dan identitas individu dan masyarakat setempat sebagai perwujudan manusia yang ata diken (orang baik dan benar) yang tidak hanya mementingkan diri sendiri, tetapi bertanggungjawab bagi orang lain. Dalam perspektif ini, tradisi upacara Dewi Wulu dalam arti tertentu disebut adalah filsafat etika masyarakat Desa Riangrita dan sekitarnya.</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <subject authority="">
  <topic>kebudayaan Flores</topic>
 </subject>
 <subject authority="">
  <topic>SKRIPSI 2018</topic>
 </subject>
 <classification>959.86</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>PERPUSTAKAAN STFT WIDYA SASANA Jln. Terusan Rajabasa 2 Malang</physicalLocation>
  <shelfLocator>959.86 Ked m</shelfLocator>
  <holdingSimple>
   <copyInformation>
    <numerationAndChronology type="1">12.027</numerationAndChronology>
    <sublocation></sublocation>
    <shelfLocator>959.86 Ked m</shelfLocator>
   </copyInformation>
  </holdingSimple>
 </location>
 <slims:image>Cover_SKRIPSI_baru.jpg.jpg</slims:image>
 <recordInfo>
  <recordIdentifier>931</recordIdentifier>
  <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2019-11-07 18:21:44</recordCreationDate>
  <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2021-02-27 10:41:19</recordChangeDate>
  <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
 </recordInfo>
</mods>
</modsCollection>