<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="8992">
 <titleInfo>
  <title>Sangkan Paran Gender</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Abdullah, Irwan (ed)</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Additional Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Yogyakarta</placeTerm>
   <publisher>Pustaka Pelajar</publisher>
   <dateIssued>1997</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Text</form>
  <extent>x + 362hlm: 15x21cm</extent>
 </physicalDescription>
 <note>LELAKI dan PEREMPUAN tidak hanya merupakan dasar dalam pembagian kerja, tetapi juga menjadi alat pemisah yang tegas dalam pengakuan dan pengingkaran sosial, ekonomi, dan politik. Pemisahan ini telah mengakibatkan ketimpangan gender yang tidak hanya berasal-usul dari suatu kultur, tetapi juga dikuatkan secara kultural melalui berbagai bentuk wacana. Wacana tandingan yang berusaha menggugat hegemoni struktural gender tidak cukup kuat untuk melahirkan apa yang disebut sebagai kemitrasejajaran, karena agen pendukung wacana tersebut berada dalam ruang sosial, ekonomi dan politik yang bias lelaki. Dalam konteks ini hubungan perempuan dengan laki-laki sepadan dengan pembagian nature dan culture di mana proses kehidupan telah menjadi proses peluhuran, penaklukan atau pembudayaan nature (perempuan) agar sesuai dengan sifat-sifat, nilai-nilai dan ukuran-ukuran yang telah disepakati di antara kaum lelaki. Hal ini menuntut terjadinya pergeseran studi gender itu sendiri: bukan lagi studi tentang hubungan lelaki dengan perempuan yang timpang melainkan studi tentang ruang-ruang sosial yang melahirkan atau melahirkan kembali ketimpangan gender.</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <subject authority="">
  <topic>Wanita</topic>
 </subject>
 <classification>305.42</classification>
 <identifier type="isbn">9798581857</identifier>
 <location>
  <physicalLocation>PERPUSTAKAAN STFT WIDYA SASANA Jln. Terusan Rajabasa 2 Malang</physicalLocation>
  <shelfLocator>305.42 Abd s</shelfLocator>
  <holdingSimple>
   <copyInformation>
    <numerationAndChronology type="1">8947</numerationAndChronology>
    <sublocation></sublocation>
    <shelfLocator>305.42 Abd s</shelfLocator>
   </copyInformation>
  </holdingSimple>
 </location>
 <slims:image>Sangkan_Paran_Gender.jpg.jpg</slims:image>
 <recordInfo>
  <recordIdentifier>8992</recordIdentifier>
  <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2019-11-07 18:21:44</recordCreationDate>
  <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2022-06-21 08:28:53</recordChangeDate>
  <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
 </recordInfo>
</mods>
</modsCollection>