<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="8231">
 <titleInfo>
  <title>Hari-Hari Bercahaya</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Hasyim, Mustofa W.</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Additional Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Yogyakarta</placeTerm>
   <publisher>GitaNagari</publisher>
   <dateIssued>2003</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Text</form>
  <extent>ix + 200hlm; 13 x 20cm</extent>
 </physicalDescription>
 <note>Apa yang tersisa dari sebuah kota kuno seperti Kotagede? Sepintas seperti tidak ada, kecuali geliat orang berusaha, geliat orang melaksanakan ritual agama, hidup dari masa silam, dari kerajinan perak dan makanan tradisional, dibumbui dengan kesibukan melayani tetangga, dan menghibur diri di pasar kuno yang senantiasa padat saat pasaran Legi. Tetapi kalau didalami dan dimasuki hidup yang tersembunyi. Kekayaan pergaulan manusia yang menjadi penghuninya. Dengan pemahaman seperti itu maka menyemai benih cinta, selanjutnya menyiram bunga cinta di kota kuno seperti Kotagede sungguh seperti mimpi. Penuh keindahan, cahaya, harapan, serta bernuansa nyaman penuh kelembutan dan keakraban. Tetapi kehidupan bukan semata mimpi. Menghadang juga kenyataan pahit getir, tantangan berat ikut menyertai. Meski kampung-kampung tradisional menyimpan keramahan, terkadang terinjak juga duri dalam pergaulan. Udara dapat manis karena madu perbincangan yang asyik, tetapi dapat juga menyeburkan racun pergunjingan yang menyesakkan dada. Lantas apa maksud Tuhan menghadirkan Din dan Ning di kota kecamatan yang kaya tradisi ini? Mengapa hari-hari yang mereka inginkan selalu bercahaya itu sering dihadang oleh kegelapan? siapa pula yang bernafsu membikin gelap masa depan Din dan Ning? bagaimana mereka melawan kegelapan agar cahaya senantiasa berdenyut dalam jiwa? Berhasilkah mereka?</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <subject authority="">
  <topic>Fiksi Indonesia</topic>
 </subject>
 <subject authority="">
  <topic>novel</topic>
 </subject>
 <classification>899.221</classification>
 <identifier type="isbn">9799713382</identifier>
 <location>
  <physicalLocation>PERPUSTAKAAN STFT WIDYA SASANA Jln. Terusan Rajabasa 2 Malang</physicalLocation>
  <shelfLocator>899.221 Has h</shelfLocator>
  <holdingSimple>
   <copyInformation>
    <numerationAndChronology type="1">11354</numerationAndChronology>
    <sublocation></sublocation>
    <shelfLocator>899.221 Has h</shelfLocator>
   </copyInformation>
  </holdingSimple>
 </location>
 <slims:image>Hari-Hari_Bercahaya.jpg.jpg</slims:image>
 <recordInfo>
  <recordIdentifier>8231</recordIdentifier>
  <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2019-11-07 18:21:44</recordCreationDate>
  <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2020-11-09 10:55:52</recordChangeDate>
  <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
 </recordInfo>
</mods>
</modsCollection>