<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="7924">
 <titleInfo>
  <title>Hipersemiotika:</title>
  <subTitle>Tafsir Cultural Studies atas Matinya Makna</subTitle>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Piliang, Yasraf Amir</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Additional Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Bandung</placeTerm>
   <publisher>Jalasutra</publisher>
   <dateIssued>2003</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Text</form>
  <extent>346hlm: 15x21cm</extent>
 </physicalDescription>
 <note>Buku tentang semiotika ini dimulai dari sebuah definisi semiotika yang dikemukakan oleh Umberto Eco yang mengatakan, bahwa semiotika ...pada prinsipnya adalah sebuah disiplin yang mempelajari segala sesuatu yang dapat digunakan untuk berdusta (lie). Definisi Eco ini - meskipun mungkin sangat mencengangkan banyak orang - secara eksplisit menjelaskan betapa sentralnya konsep dusta di dalam wacana semiotika sehingga dusta tampaknya menjadi prinsip utama semiotika itu sendiri. Kenapa? Karena semiotika sebagai satu bentuk representasi pada dasarnya adalah sesuatu yang hadir namun menunjukkan bahwa sesuatu di luar dirinyalah yang dia coba hadirkan. Representasi tidak menunjuk kepada dirinya sendiri, namun kepada yang lain. Karena sifat dasarnya itulah maka representasi sering dipermasalahkan ihwal kemampuannya untuk bisa menghadirkan 'sesuatu' di luar dirinya karena seringkali representasi malah beralih menjadi 'sesuatu' itu sendiri. Jurang yang terbentuk antara representasi dan yang direpresentasikan ini seringkali terlupakan oleh manusia. Nah permasalahan 'tipuan' seperti inilah yang menjadi landasan pembahasan tentang [hiper]semiotika dalam buku. Inilah buku yang menjadi rujukan wajib bagi para pemerhati semiotika dan cultural studies.</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <subject authority="">
  <topic>tanda dan simbol</topic>
 </subject>
 <subject authority="">
  <topic>simbolisme</topic>
 </subject>
 <classification>302.222.3</classification>
 <identifier type="isbn">979368416X</identifier>
 <location>
  <physicalLocation>PERPUSTAKAAN STFT WIDYA SASANA Jln. Terusan Rajabasa 2 Malang</physicalLocation>
  <shelfLocator>302.222.3 Pil h</shelfLocator>
  <holdingSimple>
   <copyInformation>
    <numerationAndChronology type="1">11921</numerationAndChronology>
    <sublocation></sublocation>
    <shelfLocator>302.222.3 Pil h</shelfLocator>
   </copyInformation>
  </holdingSimple>
 </location>
 <slims:image>Hipersemiotika-Tafsir_Cultural.jpg.jpg</slims:image>
 <recordInfo>
  <recordIdentifier>7924</recordIdentifier>
  <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2019-11-07 18:21:44</recordCreationDate>
  <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2022-01-19 11:20:19</recordChangeDate>
  <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
 </recordInfo>
</mods>
</modsCollection>