<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="7671">
 <titleInfo>
  <title>Humanisme dan Skolastisisme:</title>
  <subTitle>Sebuah Debat</subTitle>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Tjaya, Thomas Hidya</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Additional Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Yogyakarta</placeTerm>
   <publisher>Kanisius</publisher>
   <dateIssued>2004</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Text</form>
  <extent>113hlm: 15x21cm</extent>
 </physicalDescription>
 <relatedItem type="series">
  <titleInfo/>
  <title>Seri Pustaka Filsafat</title>
 </relatedItem>
</mods>
<note>Mengetahui itu tidak sama dengan mencintai: memahami juga berlainan dengan menghendaki. Demikianlah keyakinan kaum humanis dalam zaman Renaissance. Mereka sadar bahwa karya-karya pengarang klasik seperti Cicero dan Seneca yang begitu mereka cintai memiliki pengaruh afektif jauh lebih besar daripada karya-karya filsuf besar seperti Aristoteles yang melandasi paham skolatisisme. Debat antara Skolatisisme dan humanisme Renaissance dalam abad keenam belas yang yang dibahas dalam buku ini adalah sebuah fase dalam debat antara filsafat dan retorika. Debat ini pada hakikatnya adalah sebuah konflik antara dua bentuk pengungkapan atau metode studi dan pengajaran yang berbeda: yang satu mengarah pada akal budi, yang lain berbicara pada hati; yang satu pada dasarnya bersifat kognitif, yang lain afektif; yang satu mengejar kebenaran, yang lain ingin hidup baik dengan moralitas tinggi. Selama berabad-abad kedua disiplin ini menjadi dua pusat alternatif bagi pengorganisasian program-program pendidikan secara luas atau paideia. Perselisihan antara kedua kultur dan tradisi ini tidak dapat dihindari, ketika mereka melihat dan menjadi yakin, sekali lagi, mengenai pentingnya dan bahkan unggulnya metode dan tujuan pendidikan mereka atas metode dan tujuan pendidikan lawan.</note>
<note type="statement of responsibility"></note>
<subject authority="">
 <topic>Filsafat</topic>
</subject>
<classification>100</classification>
<identifier type="isbn">979210853X</identifier>
<location>
 <physicalLocation>PERPUSTAKAAN STFT WIDYA SASANA Jln. Terusan Rajabasa 2 Malang</physicalLocation>
 <shelfLocator>100 Tja h</shelfLocator>
 <holdingSimple>
  <copyInformation>
   <numerationAndChronology type="1">11781</numerationAndChronology>
   <sublocation></sublocation>
   <shelfLocator>100 Tja h</shelfLocator>
  </copyInformation>
 </holdingSimple>
</location>
<slims:image>Humanisme_dan_Skolastisisme.jpg.jpg</slims:image>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>7671</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2019-11-07 18:21:44</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2020-12-14 12:44:00</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>