<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="7059">
 <titleInfo>
  <title>Politik Kekerasan Orba:</title>
  <subTitle>Akankah Terus Berlanjut?</subTitle>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Sukandi A.K. (ed)</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Additional Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Bandung</placeTerm>
   <publisher>Mizan</publisher>
   <dateIssued>1999</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Text</form>
  <extent>206hlm: 13x20,5cm</extent>
 </physicalDescription>
 <note>Semua politik pada hakikatnya adalah pertarungan kekuasaan kata C. Wright Mills, seorang cebdekiawan terkemuka Amerika. Kekuasaan memang cenderung selalu dikaitkan dengan kekerasan. Melihat praktik politik yang terjadi di negeri kita selama ini, kecenderungan ini mendapat pembenaran tak henti-hentinya, sejak dari tragedi di G-30-S/PKI, tragedi Tanjung Priok, Peristiwa Lampung, Santa Cruz Dili, Haur Koneng, Nipah, Peristiwa 27 Juli, Timika, hingga kerusuhan 13-14 Mei 1998. Selama 32 Orde Baru berkuasa, ratusan ribu warga Indonesia terbunuh di samping banyak lainnya yang menderita penyiksaan fisik, penculikan, dan pemerkosaan atas nama kepentingan politik. Christianto Wibisono yang sempat menjadi korban langsung politik kekerasan Orba menulis dengan perih. Sistem yang diterapkan secara 'dungu' oleh elite Indonesia selama ini hanya menumbuhkan koruptor, penjarah, pemerkosa, penculik dan pembohong serta penjilat merangkap pengkhianat dalam satu oknum. Buku ini merekam refleksi tentang politik kekerasan yang telah diterapkan selama Orde Baru dalam bentuk kepingan-kepingan pemikiran yang menggugah. Jika kita tidak mau sistem ini terus berlanjut elite politik bangsa perlu melakukan terobosan begitu tersruktur membidani lahirnya para perusuh dan perusak memerkosa kehormatan bangsa Indonesia. Salah satu terobosan itu berupa kesediaan pihak penguasa untuk mengaku salah, menghukum yang bersalah dan memberi kompensasi kepada mereka yang menderita kerugian moral dan material karena ulah oknum pemerintah yang melanggar dan merampas hak asasi manusia.</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <subject authority="">
  <topic>kekejaman</topic>
 </subject>
 <subject authority="">
  <topic>politik dan pemerintahan</topic>
 </subject>
 <classification>361.131</classification>
 <identifier type="isbn">9794332151</identifier>
 <location>
  <physicalLocation>PERPUSTAKAAN STFT WIDYA SASANA Jln. Terusan Rajabasa 2 Malang</physicalLocation>
  <shelfLocator>361.131 Suk p</shelfLocator>
  <holdingSimple>
   <copyInformation>
    <numerationAndChronology type="1">10079</numerationAndChronology>
    <sublocation></sublocation>
    <shelfLocator>361.131 Suk p</shelfLocator>
   </copyInformation>
  </holdingSimple>
 </location>
 <slims:image>Politik_Kekerasan_Orba.jpg.jpg</slims:image>
 <recordInfo>
  <recordIdentifier>7059</recordIdentifier>
  <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2019-11-07 18:21:44</recordCreationDate>
  <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2022-11-26 11:41:56</recordChangeDate>
  <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
 </recordInfo>
</mods>
</modsCollection>