<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="605">
 <titleInfo>
  <title>Budaya Peler Masyarakat Manggarai dalam Terang Filsafat Dialogis Martin Buber</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>2. Pius Pandor, Lic. Phil</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Additional Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>1. Robertus Wijanarko, Ph. D</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Additional Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Asman, Agustinus</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Additional Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Malang</placeTerm>
   <publisher>STFT Widya Sasana</publisher>
   <dateIssued>2019</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Text</form>
  <extent>xii + 155 hlm: 21,5 x 28 cm</extent>
 </physicalDescription>
 <note>Manggarai merupakan sebuah wilayah yang kaya akan kearifan lokal. Salah satu kearifan lokal yang khas dalam budaya Manggarai adalah Peler. Peler adalah sebuah kearifan lokal yang berkaitan dengan sikap penghormatan dan penghargaan serta tangung jawab terhadap alam semesta. Munculnya budaya ini tidak telepas dari keyakinan dan kesadaran orang Manggarai yang melihat dirinya sebagai bagian dari alam semesta. Sebagai anggota komunitas kosmik orang Manggarai memiliki kewajiban untuk menjaga keharmonisan relasi di antara unsur-unsur yang membentuk rumah bersama ini. rnBudaya Peler juga merupakan suatu ekspresi dari cita rasa religius orang Manggarai. Orang Manggarai menyadari bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini tidak muncul begitu saja, tetapi karena diciptakan oleh Mori Jari Agu Dedek (Tuhan Sang Pencipta). Mitos penciptaan yang mempengaruhi konsep, gagasan dan pemahaman akan alam semesta membawa orang Manggarai pada suatu cara pandang yang holistik dan mendalam tentang alam. Alam dengan demikian menjadi sesuatu yang sangat sakral yang mesti dijaga, dirawat dan dihargai. Kesadaran yang membawa pada cara pandang yang demikian ini pada akhirnya membawa batasan-batasan tertentu berkaitan dengan sikap-sikap yang mesti dibangun. Ketika manusia melanggar kenyamanan tata hidup bersama dalam komunitas kosmik, maka ia harus melakukan rekonsiliasi, demi memulihkan kembali relasi yang harmonis. Gagasan orang Manggarai yang mendalam tentang alam semesta, rupanya memiliki kesejajaran dengan konsep relasi dialogis (Aku-Engkau) Martin Buber. Dalam relasi dialogis, yang lain dilihat sebagai ‘engkau’. ‘Engkau’ yang dikedepankan Buber ini mengarah kepada tiga hal yaitu, manusia, alam dan Tuhan. Ketiga unsur ini berada dalam satu kesatuan relasi. Keutuhan relasi dengan yang satu membawa dampak pada keutuhan relasi dengan yang lain, demikian sebaliknya. Lebih lanjut Buber menekankan bahwa relasi dengan manusia dan manusia dengan alam (atau biasa disebutnya dengan Particular Thou) memuncak dalam relasi dengan Tuhan (Eternal Thou). Dengan diterangi oleh gagasa Buber ini, maka dalam kerangka filosofis budaya  Peler Manggarai dipahami sebagai sebuah model relasi dialogis terhadap alam. Alam dilihat sebagai sesama atau ‘engkau’ yang harus dihormati atau dihargai. Penghormatan dan penghargaan yang mendalam terhadap alam ini, merupakan sebuah bentuk ekspresi tanggung jawab orang Manggarai terhadap ‘yang lain’. Tanggung jawab ini juga merupakan sebuah cetusan ekspresi cinta. Sebab cinta bagi Buber, bukan soal gejolak emosi tetapi berkaitan dengan tanggung jawabku terhadap kehadiran ‘yang lain’. Dengan demikian relasi dialogis orang Manggarai dengan alam merupakan sebuah ekspresi cinta. Cinta memantik sikap tanggung jawab.</note>
 <subject authority="">
  <topic>SKRIPSI 2019</topic>
 </subject>
 <subject authority="">
  <topic>filsafat yahudi</topic>
 </subject>
 <classification>181.06</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>PERPUSTAKAAN STFT WIDYA SASANA Jln. Terusan Rajabasa 2 Malang</physicalLocation>
  <shelfLocator>181.06 Asm b</shelfLocator>
  <holdingSimple>
   <copyInformation>
    <numerationAndChronology type="1">15.030</numerationAndChronology>
    <sublocation></sublocation>
    <shelfLocator>181.06 Asm b</shelfLocator>
   </copyInformation>
  </holdingSimple>
 </location>
 <slims:image>Cover_SKRIPSI_baru.jpg.jpg</slims:image>
 <recordInfo>
  <recordIdentifier>605</recordIdentifier>
  <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2019-11-07 18:21:44</recordCreationDate>
  <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2019-11-07 18:21:44</recordChangeDate>
  <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
 </recordInfo>
</mods>
</modsCollection>