<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="5765">
 <titleInfo>
  <title>Peran Hukum Larvul Ngabal dalam Penguatan Identitas Masyarakat Kei (Suatu Tinjauan Antropologis-Filosofis)</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>1. Raymundus I Made Sudhiarsa, Ph.D</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Additional Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Latbual, Yohanis</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Additional Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text"></placeTerm>
   <publisher></publisher>
   <dateIssued>2015</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Text</form>
  <extent>viii + 95hlm: 21,5x28cm</extent>
 </physicalDescription>
 <note>Manusia adalah makhluk yang berakal budi (homo animal est rationale). Sebagai makhluk yang berakal budi, manusia memiliki kempuan untuk berpikir dan berefleksi. Kemampuan rasional inilah, yang memungkinkan manusia untuk mengangkat martabatnya dan menempatkan dirinya sebagai makhluk yang istimewa, luhur dan mulia. Keistimewaan dan keluhuran diri manusia itu baru tampak ketika manusia berusaha untuk menata dan mengatur hidupnya secara lebih baik. Berdasarkan konsep ini, maka para filosof Kei melihat bahwa penyebab utama dari konflik sosial adalah ketika manusia tidak lagi menghargai dirinya, sesamanya, alam dan bahkan Tuhan.  Atas dasar itu, para filosof Kei mengadakan suatu reformasi dengan mengusung penghayatan hidup berdasarkan kebajikan-kebajikan moral. Sebab para filosof Kei yakin bahwa reformasi suatu masyarakat hanya dapat terjadi apabila masyarakat tersebut memiliki kebajikan moral. Berdasarkan konsep itu, maka lahirlah ketujuh pasal Hukum Larvul Ngabal; pertama, ud entauk atvunad (kepala kita bertumpu pada tengkuk kita). Kedua lelad ain fo mahiling (leher kita harus dihormati dan diluhurkan). Ketiga, ul nit envil atumud (kulit membungkus badan kita). Keempat, lar nakmud ivud (darah tinggal tenang dalam perut kita). Kelima, rek fo mahiling (dinding atau tanda batas harus dihormati). Keenam, moryain fo kelmutun (perkawinan harus dihormati). Ketujuh, hira ni ntub fo i ni, it did ntub fo it did (milik orang tetap milik orang, milik kita tetap milik kita).</note>
 <subject authority="">
  <topic>SKRIPSI 2015</topic>
 </subject>
 <subject authority="">
  <topic>kebudayaan Maluku</topic>
 </subject>
 <classification>959.86</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>PERPUSTAKAAN STFT WIDYA SASANA Jln. Terusan Rajabasa 2 Malang</physicalLocation>
  <shelfLocator>959.86 LAT p</shelfLocator>
  <holdingSimple>
   <copyInformation>
    <numerationAndChronology type="1">11.065</numerationAndChronology>
    <sublocation></sublocation>
    <shelfLocator>959.86 Lat p</shelfLocator>
   </copyInformation>
  </holdingSimple>
 </location>
 <slims:image>Cover_SKRIPSI_baru.jpg</slims:image>
 <recordInfo>
  <recordIdentifier>5765</recordIdentifier>
  <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2019-11-07 18:21:44</recordCreationDate>
  <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2019-11-07 18:21:44</recordChangeDate>
  <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
 </recordInfo>
</mods>
</modsCollection>