<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="4535">
 <titleInfo>
  <title>Korupsi dan Kebudayaan</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Rosidi, Ajip</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Additional Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Jakarta</placeTerm>
   <publisher>Dunia Pustaka Jaya</publisher>
   <dateIssued>2009</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Text</form>
  <extent>198hlm: 13,5x20cm</extent>
 </physicalDescription>
 <note>Korupsi sudah menjadi budaya, ujar Bung Hatta sekian puluh tahun yang lalu. Ajip Rosidi dalam kumpulan karangannya Korupsi dan Kebudayaan, seolah hendak membuktikan atau mendukungnya. Tenten bukan karena sekadar adanya kemiripan kata-kata. Di dalamnya ada rasa gelisah, ingin tahu, dan rasa geram yang dikemas dengan daya kritis kadang bercampur dengan praduga. Tulisannya campur sari akal dan rasa, menjangkau, rentang waktu 5 abad ke belakang, menyentuh isu-isu masa kini, bahkan memantulkan harapan masa depan. Itu semua sungguh mewakili alam pikiran sebagian-kalau bukan sebagian besar kelompok masyarakat. Sepanjang apa yang saya ketahui, sudah jarang ada pembahasan mengenai korupsi yang mengambil rujukan ke masa silam, apalagi ke masa kerajaan Mataram, mungkin karena terlalu jauh dan konteknya sangat berbeda dengan realitas sekarang. Namun Kang Ajip, dengan pemaparan yang menarik justru melihat korupsi yang menggila sekarang ini sebagai gejala yang berakar pada watak dan perilaku para pembesar pada zaman kerajaan di Nusantara. Di sini perpecahan dalam tubuh kerajaan atau pemberontakan memperebutkan tahta kerajaan yang melibatkan kerabat kerajaan sepanjang sejarah kerajaan atau kesultanan di seluruh Nusantara, dilihat sebagai periode awal yang melahirkan mentalitas budaya korup yang lebih mementingkan upaya memperkaya diri atau golongan daripada menjaga keutuhan bangsa dan negara.</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <subject authority="">
  <topic>kebudayaan</topic>
 </subject>
 <subject authority="">
  <topic>korupsi</topic>
 </subject>
 <classification>364.132.3</classification>
 <identifier type="isbn">9789794193655</identifier>
 <location>
  <physicalLocation>PERPUSTAKAAN STFT WIDYA SASANA Jln. Terusan Rajabasa 2 Malang</physicalLocation>
  <shelfLocator>364.132.3 Ros k</shelfLocator>
  <holdingSimple>
   <copyInformation>
    <numerationAndChronology type="1">15998</numerationAndChronology>
    <sublocation></sublocation>
    <shelfLocator>364.132.3 Ros k</shelfLocator>
   </copyInformation>
  </holdingSimple>
 </location>
 <slims:image>Korupsi_dan_Kebudayaan.jpg.jpg</slims:image>
 <recordInfo>
  <recordIdentifier>4535</recordIdentifier>
  <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2019-11-07 18:21:44</recordCreationDate>
  <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2022-06-11 10:11:20</recordChangeDate>
  <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
 </recordInfo>
</mods>
</modsCollection>