<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="421">
 <titleInfo>
  <title>Membuka Mata Hati Indonesia</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Susetyo, Benny</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Additional Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Malang</placeTerm>
   <publisher>Averroes Press</publisher>
   <dateIssued>2002</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Text</form>
  <extent>xx + 201hlm: 12x20cm</extent>
 </physicalDescription>
 <note>Lihatlah Tuhan, bangsa ini hancur berantakan akibat para petualang politik, bisnis dan intelektual. Mereka ini hanya mencari kekayaan dirinya sendiri. Akibatnya rakyat kelaparan, sengsara, anak-anak kehilangan dunia bermain. Hutan-hutan tidak bertuan. Mengapa engkau membiarkan mereka hidup di tengah-tengah kami, orang yang ingin menegakkan kebenaran? Mengapa Engkau membiarkan mereka merayu kami untuk berbuat curang, manipulasi, egois dan melakukan kekerasan? Bukanlah lebih baik Tuhan cabut saja ilalang itu? Kita sudah muak dengan tingkah mereka yang selalu membodohi rakyat, sok suci, sok menggunakan agama untuk melestarikan kekuasaan. Bagaimana kalau mereka ditumpas habis saja, biar mereka tahu bahwa merekalah orang-orang yang selama ini menghalangi kebaikan. Berkata ay 28, Jadi maukah tuan supaya kami pergi mencabut ilalang itu? Mereka itu orang yang tidak bisa diuntung kerjanya bikin kacau, bikin sengsara rakyat karena mereka hanya memikirkan dirinya sendiri, menyedot kekayaan hanya untuk anak cucunya sendiri. Sudahlah tuan demikian si hamba biar aku yang membereskan semua itu. Tuan itu berkata ay 30, 'Jangan, sebab mungkin gandum itu tercabut pada waktu engkau mencabut ilalang itu. Biarlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai'. Buku ini adalah kumpulan refleksi dari penulisnya untuk mengatakan bahwa meski politik Indonesia hari ini sudah sedemikian kotornya (bahkan pikiran kita pun nyaris tidak menyakini kondisi tersebut bisa dibersihkan) akan tetapi masih ada secercah harapan untuk berubah, untuk membersihkan noda-noda. Seandainya pun tidak bisa dibersihkan maka biarlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai tiba.</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <subject authority="">
  <topic>Indonesia-keadaan sosial dan ekonomi</topic>
 </subject>
 <classification>330.959.8</classification>
 <identifier type="isbn">9793237325</identifier>
 <location>
  <physicalLocation>PERPUSTAKAAN STFT WIDYA SASANA Jln. Terusan Rajabasa 2 Malang</physicalLocation>
  <shelfLocator>330.959.8 Sus m</shelfLocator>
  <holdingSimple>
   <copyInformation>
    <numerationAndChronology type="1">11060</numerationAndChronology>
    <sublocation></sublocation>
    <shelfLocator>330.959.8 Sus m</shelfLocator>
   </copyInformation>
  </holdingSimple>
 </location>
 <slims:image>Membuka_Mata_Hati_Indonesia.jpg.jpg</slims:image>
 <recordInfo>
  <recordIdentifier>421</recordIdentifier>
  <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2019-11-07 18:21:44</recordCreationDate>
  <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2022-05-30 09:03:00</recordChangeDate>
  <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
 </recordInfo>
</mods>
</modsCollection>