<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="3501">
 <titleInfo>
  <title>Mata Air Keteladanan:</title>
  <subTitle>Pancasila dalam Perbuatan</subTitle>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Latif, Yudi</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Additional Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Jakarta</placeTerm>
   <publisher>Mizan</publisher>
   <dateIssued>2014</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Text</form>
  <extent>xxii + 650hlm: 15x23cm</extent>
 </physicalDescription>
 <note>Keteladanan itu adalah nilai yang operasional, bukan sekadar kata-kata mutiara. Artinya, selain bersifat inspiratif, juga aplikatif. Begitulah Pancasila, yang berfungsi sebagi keteladanan bagi kita semua. Pancasila merupakan konstruksi gagasan yang dirancang penuh keseriusan oleh Bung Karno. Bahan bakunya, yaitu nilai-nilai yang nyata-nyata hidup dan bekerja dalam masyarakat. Bung Karno melakukan kristalisasi nilai-nilai tersebut secara paripurna. Sayangnya, penghormatan kita kepada Pancasila justru menempatkannya sebatas teks sakral yang kosong. Bahkan, didegradasikan menjadi alat kekuasaan. Pengalaman traumatik itu mengantarkan kita pada kegetiran yang mengenaskan. Pasca-Reformasi 1998, bangsa ini seolah-olah dalam situasi vakum ideologi. Kesalahan itu dengan cermat disimpulkan Yudi, karena Pancasila direduksi melalui metode hafalan: sehingga impresinya hilang. Buku ini tidak sedang mendesakkan definisi baru mengenai Pancasila, melainkan dengan cerdas menemukan perspektif menyelami nilai-nilainya sebagai sesuatu yang hidup dalam perbuatan tokoh-tokoh bangsa. Yudi adalah sedikit 'intelektual ideologis' yang kita miliki, pemikir yang sangat peduli dengan bukan saja keberadaan dan keberlangsungan ideologi negara, tetapi, bagaimana ideologi itu 'bisa bunyi' sebagai living ideology dan working ideology. Selain itu Yudi menyadarkan sekaligus membangkitkan optimisme kita bahwa bangsa-negara ini punya banyak mata air keteladanan.</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <subject authority="">
  <topic>Pancasila</topic>
 </subject>
 <classification>320.5</classification>
 <identifier type="isbn">9789794338308</identifier>
 <location>
  <physicalLocation>PERPUSTAKAAN STFT WIDYA SASANA Jln. Terusan Rajabasa 2 Malang</physicalLocation>
  <shelfLocator>320.5 Lat m</shelfLocator>
  <holdingSimple>
   <copyInformation>
    <numerationAndChronology type="1">18147</numerationAndChronology>
    <sublocation></sublocation>
    <shelfLocator>320.5 Lat m</shelfLocator>
   </copyInformation>
  </holdingSimple>
 </location>
 <slims:image>Mata_Air_Keteladanan.jpg.jpg</slims:image>
 <recordInfo>
  <recordIdentifier>3501</recordIdentifier>
  <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2019-11-07 18:21:44</recordCreationDate>
  <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2023-01-07 09:55:16</recordChangeDate>
  <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
 </recordInfo>
</mods>
</modsCollection>