<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="3379">
 <titleInfo>
  <title>Melayu Juwita:</title>
  <subTitle>Renjis Riau Sebingkai Perisa</subTitle>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Yusuf, Yusmar</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Additional Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Jakarta</placeTerm>
   <publisher>Wedatama Widya Sastra</publisher>
   <dateIssued>2006</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Text</form>
  <extent>xv + 327hlm: 14x20cm</extent>
 </physicalDescription>
 <note>Sebuah ikhtiar untuk menyampaikan pesan-pesan kebudayaan Melayu Riau yang dianggap sebagai sebuah fenomena kebudayaan yang lasak dengan ikhtiar-ikhtiar pencarian dan mendudukkan entitas keMelayuannya. Sejauh ini gerakan kebudayaan Melayu yang menjadi response cerdas oleh Masyarakat Melayu di Riau telah memasuki ranah kekuasaan dan ranah politik. Dengan demikian gempita Melayu dan kebudayaan Melayu telah menjadi gempita kolektif, sekaligus impian kolektif masyarakat Riau. Tetapi, tersebab gerakan ini, lebih bersifat massif-reaktif, sehingga apa-apa yang diselenggarakan dan akan disediakan oleh gerakan Melayu sebagai gerakan kebudayaan itu, terkadang terlepas-luncas dari kaidah-kaidah kemanusiaan. Riau menjadi sebuah sudut tanah yang menutup diri dari segala pengaruh luar, karena selama ini Riau merasa dicederai oleh sesuatu yang bernama luar, baik eksploitasi kebudayaan apatah lagi eksploitasi sumberdaya alam yang melimpah di bantaran pantai timur Sumatera ini. Sebagai sebuah dunia reaktif, kebudayaan Melayu menjadi sebuah oposisional bagi kaum pendatang ke tanah ini. Di satu sisi, para penggerak dan pemerintah Riau yang berpaksi pada suasana Melayu itu hendak menjadikan momentum reformasi dan otonomi sebagai era membenihkan generasi bunga, namun di sudut lain jalan untuk meretas upaya itu selalu tersandung pada perangkap-perangkap sempit dan gelap yang senantiasa menjebak Melayu dan mental Melayu menjadi orang yang tak membuka diri atas laluan peradaban, sebuah kebudayaan yang tak memberi celah dialog kepada ragam kebudayaan yang ada di Nusantara. Kenyataan ini adalah sebuah kenyataan yang tidak sehat dalam akselerasi kebudayaan apa pun dan di mana pun dia berlari dan berkejaran.</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <subject authority="">
  <topic>kebudayaan Melayu-Riau</topic>
 </subject>
 <classification>306</classification>
 <identifier type="isbn">9793258535</identifier>
 <location>
  <physicalLocation>PERPUSTAKAAN STFT WIDYA SASANA Jln. Terusan Rajabasa 2 Malang</physicalLocation>
  <shelfLocator>306 Yus m</shelfLocator>
  <holdingSimple>
   <copyInformation>
    <numerationAndChronology type="1">13029</numerationAndChronology>
    <sublocation></sublocation>
    <shelfLocator>306 Yus m</shelfLocator>
   </copyInformation>
  </holdingSimple>
 </location>
 <slims:image>Melayu_Juwita.jpg.jpg</slims:image>
 <recordInfo>
  <recordIdentifier>3379</recordIdentifier>
  <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2019-11-07 18:21:44</recordCreationDate>
  <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2021-05-07 12:36:17</recordChangeDate>
  <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
 </recordInfo>
</mods>
</modsCollection>