<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="3143">
 <titleInfo>
  <title>Memutus Rantai Ketidakadilan Global Care dalam Pengasuhan Anak Tenaga Kerja Perempuan (TKIP)</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Anshor, Maria Ulfah</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Additional Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Jakarta</placeTerm>
   <publisher>Yayasan Pustaka Obor Indonesia</publisher>
   <dateIssued>2017</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Text</form>
  <extent>xxii + 290hlm: 14,5x21cm</extent>
 </physicalDescription>
 <note>Tenaga Kerja Indonesia Perempuan (TKIP) ke luar negeri sebagai pekerja rumah tangga termasuk merawat anak, dialami oleh sejumlah negara lain, merupakan fenomena global care chain. Dalam fenomena tersebut ada pergeseran peran perempuan/istri menjadi pencari nafkah utama untuk menyelamatkan ekonomi keluarga dengan konsekuensi di antaranya meninggalkan anak bahkan bayi berusia nol bulan. Ironisnya, meskipun suami bisa menjadi pengasuh bagi anak mereka, namun sedikit sekali yang melakukannya. Hal tersebut merupakan bentuk ketidakadilan dari global care chain dalam budaya patriarkhi yang tidak diperhitungkan oleh TKIP dan keluarganya, maupun oleh para pembuat kebijakan. Kerugian yang diderita anak TKIP tersebut seharusnya bisa dikonversikan dengan jaminan kesejahteraan sosial bagi anak TKIP, yang dibayar oleh majikan dan atau oleh negara, yang seharusnya terintegrasi dalam blue print kebijakan TKI secara komprehensif. Pesantren dan komunitas bisa menjadi alternatif bagi pengasuhan anak TKIP namun belum ada dukungan, ada pengabaian yang terindikasi pelanggaran HAM.</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <subject authority="">
  <topic>Tenaga kerja</topic>
 </subject>
 <subject authority="">
  <topic>pekerja wanita</topic>
 </subject>
 <subject authority="">
  <topic>anak, pendidikan</topic>
 </subject>
 <classification>331.4</classification>
 <identifier type="isbn">9786024334338</identifier>
 <location>
  <physicalLocation>PERPUSTAKAAN STFT WIDYA SASANA Jln. Terusan Rajabasa 2 Malang</physicalLocation>
  <shelfLocator>331.4 Ans m</shelfLocator>
  <holdingSimple>
   <copyInformation>
    <numerationAndChronology type="1">19190</numerationAndChronology>
    <sublocation></sublocation>
    <shelfLocator>331.4 Ans m</shelfLocator>
   </copyInformation>
  </holdingSimple>
 </location>
 <slims:image>Memutus_Rantai_Ketidakadilan.jpg.jpg</slims:image>
 <recordInfo>
  <recordIdentifier>3143</recordIdentifier>
  <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2019-11-07 18:21:44</recordCreationDate>
  <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2022-12-15 11:32:00</recordChangeDate>
  <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
 </recordInfo>
</mods>
</modsCollection>