<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="3037">
 <titleInfo>
  <title>Mendulang Demokrasi dari Teori Diskursus Habermas:</title>
  <subTitle>Tawaran Demokrasi dalam Konteks Indonesia</subTitle>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>2. Matheus Agung Christiputra, MA</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Additional Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>1. Antonius Sad Budianto, M.A.</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Additional Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Primana, Yanuarius Risky</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Additional Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Malang</placeTerm>
   <publisher>STFT Widya Sasana</publisher>
   <dateIssued>2014</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Text</form>
  <extent>x + 107hlm: 21,5x28cm</extent>
 </physicalDescription>
 <note>Demokrasi bukan sekedar pesta pemilihan umum secara periodik, bukan juga soal kemenangan mayoritas atas minoritas. Demokrasi adalah persoalan mengomunikasikan keragaman di antara anggota-anggota masyarakat demi mencapai tujuan terbaik. Indonesia nampaknya menjadi lahan yang sangat tepat untuk menuai demokrasi, karena benih-benih demokrasi itu telah ada dalam musyawarah-mufakat. Pluralitas dan keragamannya menjadikan demokrasi mendapat tempat untuk mewadahi berbagai aspirasi demi bangsa ini sendiri. Jika keragaman dan pluralitas menjadi fakta di negara ini, maka apa sebenarnya dasar etis untuk mewujudkan negara yang dapat diterima oleh semua pihak? Demokrasi dari teori diskursus Habermas bisa menjadi jawabannya. Konsep demokrasi dari teori diskursus Habermas ini berusaha menimba secara mendalam potensi demokrasi radikal yang terkandung dalam prosedur dan institusi-institusi demokratis yang sudah ada di negara kita. Perwujudan demokrasi model Habermas ini pada akhirnya bermuara pada terciptanya sebuah ruang publik. Ruang publik menjadi sendi-sendi penopang terwujudnya demokrasi yang substansial bukan hanya demokrasi prosedural. Karena dalam ruang publik itu terjadi penyebaran rasio yang bisa diuji oleh semua orang melalui proses komunikasi. Ruang publik menjadi arena diskursif bagi masyarakat untuk membicarakan persoalan politis sekaligus membatasi ruang privat mereka. Ruang publik ini ibarat arena belajar bagi masyarakat untuk menciptakan bentuk demokrasi demi pencapaian kebaikan bersama. Demokrasi tawaran Habermas ini bukanlah sebuah solusi final, namun penerapannya berpeluang besar membuka kanal-kanal komunikasi yang sering tersendat di mana berbagai keanekaragaman bisa diwadahi dan mendapat kesempatan untuk dibahas secara rasional.</note>
 <subject authority="">
  <topic>filsafat Jerman</topic>
 </subject>
 <subject authority="">
  <topic>SKRIPSI 2014</topic>
 </subject>
 <classification>193</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>PERPUSTAKAAN STFT WIDYA SASANA Jln. Terusan Rajabasa 2 Malang</physicalLocation>
  <shelfLocator>193 PRI m</shelfLocator>
  <holdingSimple>
   <copyInformation>
    <numerationAndChronology type="1">10.000060</numerationAndChronology>
    <sublocation></sublocation>
    <shelfLocator>193 PRI m</shelfLocator>
   </copyInformation>
  </holdingSimple>
 </location>
 <slims:image>Cover_SKRIPSI_baru.jpg</slims:image>
 <recordInfo>
  <recordIdentifier>3037</recordIdentifier>
  <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2019-11-07 18:21:44</recordCreationDate>
  <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2019-11-07 18:21:44</recordChangeDate>
  <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
 </recordInfo>
</mods>
</modsCollection>