<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="3034">
 <titleInfo>
  <title>Menebus Pendidikan yang Tergadai:</title>
  <subTitle>Catatan Reflektif Seorang Guru</subTitle>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Kartono, St.</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Additional Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Yogyakarta</placeTerm>
   <publisher>Galang Press</publisher>
   <dateIssued>2002</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Text</form>
  <extent>xvi + 177hlm: 11x18cm</extent>
 </physicalDescription>
 <note>Jika tidak ada wahyu maka liarlah rakyat, begitu bunyi sebuah Amsal. Wahyu pada zaman ini adalah visi. Artinya nilai-nilai kehidupan yang menjadi kiblat sebuah konsep, lembaga, organisasi, masyarakat atau pun kurikulum. Pemimpin dan pengambil keputusan boleh berganti sehari tiga kali tetapi yang mendinamisasi sebuah kurikulum adalah visi alias wahyu. Tanpa didasarkan pada visi; praksis pendidikan akan berlangsung secara tambal sulam kebijakan-kebijakan yang diambil para penentu kebijakan hanya berdasar pada mood sesaat, pendidikan hanya menjadi alat melanggengkan primordialisme tertentu bahkan dipolitisir lebih parah lagi justru merebut peserta didik dari akar lingkungan dan dirinya sendiri. Padahal tujuan akhir pendidikan adalah pemanusiaan manusia muda. Seluruh anasir pendidikan diharapkan membawa siswa sebagai orang muda menjadi human mencapai tingkat insani. Interaksi pendidikan harus menempatkan siswa-guru-sekolah swasta sebagai subjek bukan sebagai objek. Tak perlu ada lagi mobilisasi siswa untuk kepentingan tertentu; tak perlu pula guru yang sekedar menjadi objek kurikulum atau justru objek dari keberadaan ekonomi dan status sosialnya; sekolah swasta tak perlu lagi dianggap sebagai pesaing sekolah negeri bahkan menjadi sapi perah bagi Depdiknas. Visi pendidikan yang jelas pada gilirannya akan membantu menebus pendidikan yang selama ini tergadai.</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <subject authority="">
  <topic>pendidikan</topic>
 </subject>
 <classification>370</classification>
 <identifier type="isbn">9799341310</identifier>
 <location>
  <physicalLocation>PERPUSTAKAAN STFT WIDYA SASANA Jln. Terusan Rajabasa 2 Malang</physicalLocation>
  <shelfLocator>370 Kar m</shelfLocator>
  <holdingSimple>
   <copyInformation>
    <numerationAndChronology type="1">10942</numerationAndChronology>
    <sublocation></sublocation>
    <shelfLocator>370 Kar m</shelfLocator>
   </copyInformation>
  </holdingSimple>
 </location>
 <slims:image>Menebus_Pendidikan_yang_Tergadai.jpg.jpg</slims:image>
 <recordInfo>
  <recordIdentifier>3034</recordIdentifier>
  <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2019-11-07 18:21:44</recordCreationDate>
  <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2022-12-15 10:24:33</recordChangeDate>
  <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
 </recordInfo>
</mods>
</modsCollection>