<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="2973">
 <titleInfo>
  <title>Manusia, Kebudayaan dan Lingkungan:</title>
  <subTitle>Tinjauan Antropologis</subTitle>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Daeng, Hans J.</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Additional Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Yogyakarta</placeTerm>
   <publisher>Pustaka Pelajar</publisher>
   <dateIssued>2008</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Text</form>
  <extent>xiii + 341hlm: 15x21cm</extent>
 </physicalDescription>
 <note>Waktu berubah dan kita ikut berubah di dalamnya. Itulah makna kehidupan dalam berbudaya. Dengan kebudayaan, tampaknya, hidup menjadi lebih bermakna dan manusia menjadi lebih arif, perenungan yang dalam tentang makna hidup manusia, akan mengajak untuk menjadi bijak mengikuti perubahan waktu. Hans Daeng, menunjukkan pada persoalan kebudayaan yang menonjol, bahwa perubahan itu sendiri merupakan suatu yang konstan yang justru memperlihatkan suatu proses yang dinamis dalam kehidupan masyarakat. Seperti dikatakan, misalnya bahwa manusia itu adalah animal historicum yang menyimpan historisitasnya sendiri. Penempatan lingkungan misalnya, bagi Hans Daeng adalah petunjuk betapa aspek perubahan menjadi concern utama yang mengharuskan adanya respons manusia dalam berbagai bentuk. Tantangan globalisasi telah dilihat sebagai seting historis penting yang membutuhkan penyesuaian-penyesuaian. Dengan perubahan ini kemudian manusia memakai hidupnya dengan historisitasnya sendiri. Pada tataran dalam buku ini penekanannya lebih pada budaya deferensial, di mana pemaknaan itu sesungguhnya sangat bersifat historis yang menyebabkan pembentukan kesadaran dan pengetahuan kebudayaan yang terjadi merupakan serangkaian interaksi antara manusia dengan lingkungannya.</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <subject authority="">
  <topic>kebudayaan</topic>
 </subject>
 <subject authority="">
  <topic>Antropologi</topic>
 </subject>
 <classification>306</classification>
 <identifier type="isbn">9799289459</identifier>
 <location>
  <physicalLocation>PERPUSTAKAAN STFT WIDYA SASANA Jln. Terusan Rajabasa 2 Malang</physicalLocation>
  <shelfLocator>306 Dae m</shelfLocator>
  <holdingSimple>
   <copyInformation>
    <numerationAndChronology type="1">14109</numerationAndChronology>
    <sublocation>Perpustakaan S-2</sublocation>
    <shelfLocator>306 Dae m</shelfLocator>
   </copyInformation>
  </holdingSimple>
 </location>
 <slims:image>Manusia-Kebudayaan-Lingkungan.jpg.jpg</slims:image>
 <recordInfo>
  <recordIdentifier>2973</recordIdentifier>
  <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2019-11-07 18:21:44</recordCreationDate>
  <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2020-12-21 12:21:29</recordChangeDate>
  <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
 </recordInfo>
</mods>
</modsCollection>