Record Detail
Advanced SearchText
Pengakuan, Martabat, dan Identitas dalam Tradisi Belis Lamalohot: Suatu Kajian Filosofis Berdasarkan Pemikiran Charles Taylor
Tradisi belis merupakan salah satu unsur penting dalam perkawinan adat masyarakat Lamaholot yang hingga kini masih dipraktikkan di Flores Timur, Adonara, Solor, dan Lembata. Dalam perkembangan masyarakat modern, belis sering dipahami secara sempit sebagai beban ekonomi atau transaksi material sehingga mengaburkan makna filosofis yang terkandung di dalamnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji tradisi Belis Lamaholot dalam perspektif filsafat pengakuan Charles Taylor, khususnya berkaitan dengan pengakuan (recognition), martabat manusia, dan pembentukan identitas. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kepustakaan (library research) dengan pendekatan normatif-hermeneutik. Data diperoleh dari berbagai literatur mengenai budaya Lamaholot dan pemikiran Charles Taylor, kemudian dianalisis secara deskriptif, konseptual, dan kritis. Fokus penelitian diarahkan pada makna belis dalam kehidupan masyarakat Lamaholot, konsep pengakuan dan identitas dalam pemikiran Charles Taylor, serta relevansi keduanya dalam memahami martabat manusia dalam tradisi belis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa belis pada hakikatnya bukan merupakan bentuk jual beli perempuan, melainkan simbol penghormatan terhadap martabat perempuan, sarana pengakuan timbal balik antara dua keluarga, dan medium pembentukan identitas komunal. Dalam terang filsafat Charles Taylor, tradisi belis dapat dipahami sebagai praktik pengakuan yang memungkinkan individu dan komunitas memperoleh identitasnya melalui relasi dialogis. Namun demikian, penelitian ini juga menemukan adanya risiko misrecognition dan nonrecognition ketika belis direduksi menjadi tuntutan ekonomi, simbol status sosial, atau sarana objektifikasi manusia. Oleh karena itu, tradisi belis perlu terus direinterpretasi agar tetap mempertahankan nilai-nilai penghormatan, solidaritas, relasionalitas, dan martabat manusia yang menjadi inti keberadaannya. Dengan demikian, tradisi belis Lamaholot tidak hanya memiliki nilai budaya, tetapi juga mengandung makna filosofis yang relevan bagi kehidupan masyarakat plural dewasa ini, terutama dalam membangun relasi yang berlandaskan pengakuan, penghormatan, dan penghargaan terhadap martabat manusia.
Availability
| 22.067 | 392.5 Bug p | Perpustakaan STFT | Available |
Detail Information
| Series Title |
-
|
|---|---|
| Call Number |
392.5 Bug p
|
| Publisher | STFT Widya Sasana : Malang., 2026 |
| Collation |
xiv + 160hlm; 21,5x28cm
|
| Language |
Indonesia
|
| ISBN/ISSN |
-
|
| Classification |
392.5
|
| Content Type |
-
|
| Media Type |
-
|
|---|---|
| Carrier Type |
-
|
| Edition |
-
|
| Subject(s) | |
| Specific Detail Info |
-
|
| Statement of Responsibility |
-
|
Other version/related
No other version available






