Record Detail
Advanced SearchText
Spiritualitas Peziarah Menurut Bulla Spes Non Confundit dan Implikasinya terhadap Praktik Ziarah Modern
Tulisan ini membahas tentang spiritualitas ziarah dalam kacamata Bulla Spes Non Confundit yang dikeluarkan oleh Paus Fransiskus pada 2024 sebagai tema utama Yubileum 2025. Dilatarbelakangi oleh fenomena merosotnya nilai harapan dan merebaknya sikap pesimistis manusia terhadap persoalan masyarakat modern, tulisan ini berusaha mengembangkan nyala harapan yang kontekstual di zaman sekarang melalui semangat peziarah. Ziarah adalah salah satu praktik hidup beriman yang populer dipraktikkan oleh umat zaman sekarang. Sayangnya, kepopuleran ini tidak jarang menyebabkan umat terjebak dalam aspek rekreatif atau lahiriah yang dangkal ketika sedang berziarah. Oleh karena itu, bulla Spes Non Confundit merupakan sebuah sumber yang memberi permenungan mendalam tentang ziarah sebagai suatu upaya pemeliharaan harapan. Lewat penggalian spiritualitas ziarah dengan studi ilmu historis, teologis, dan liturgis, ditemukan pengertian ziarah di dalam Gereja Katolik, bagaimana spiritualitas peziarah menurut Bulla Spes Non Confundit, dan apa implikasi spiritual peziarah pengharapan terhadap praktik ziarah di era modern sekarang. Metode penelitian yang digunakan penulis adalah metode kualitatif melalui pengumpulan data studi pustaka (library research). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Bulla Spes non Confundit mendefinisikan spiritualitas peziarah sebagai representasi eksistensi manusia yang bergerak secara dinamis menuju keselamatan kekal, dengan Kristus sebagai 'Sang Pintu' dan Roh Kudus sebagai penggerak utama. Ziarah bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan sebuah kompas pertobatan, perwujudan sinodalitas Gereja, dan misi konkret untuk membagikan perdamaian serta solidaritas nyata. Semua ini merupakan kerangka pengharapan yang dititikberatkan oleh tema Yubileum 2025. Secara pastoral, tulisan ini berimplikasi pada sosialisasi penghayatan praktik ziarah sebagai sarana pemeliharaan iman, ruang internalisasi rahmat, pembentukan persekutuan (communio), dan kesaksian misi. Secara spesifik dalam konteks Indonesia, praktik lokal Napak Jero Parantijati merepresentasikan ziarah sebagai contoh praktik ideal dari identitas peziarah harapan yang tangguh, kontemplatif, dan berakar pada aktualitas iman.
Availability
| 22.050 | 248.4 Sih s | Perpustakaan STFT | Available |
Detail Information
| Series Title |
-
|
|---|---|
| Call Number |
248.4 Sih s
|
| Publisher | STFT Widya Sasana : Malang., 2026 |
| Collation |
x + 134hlm; 21,5x28cm
|
| Language |
Indonesia
|
| ISBN/ISSN |
-
|
| Classification |
248.4
|
| Content Type |
-
|
| Media Type |
-
|
|---|---|
| Carrier Type |
-
|
| Edition |
-
|
| Subject(s) | |
| Specific Detail Info |
-
|
| Statement of Responsibility |
-
|
Other version/related
No other version available






