Record Detail
Advanced Search
Text
Rancang Bangun Eklesiologi Persekutuan Masyarakat Ngada, Flores: sebuah studi fenomenologi hermeneutis atas Praksis Woe-Sa'O Ngaza
Gereja kontemporer mengemban amanat fundamental untuk mengaktualisasikan hekikatnya sebagai persekutuan yang relevan dalam partikularitas budaya. Guna menanggapi urgensi tersebut, paradigma eklesiologi persekutuan (communio)yang dipromulgasikan Konsili Vatikan II dan dipertegas melalui arah Gereja Sinodal menjadi kerangka teologis yang transformatif. Namun, upaya mendialogkan doktrin teologis yang universal dengan struktur sosio-kultural yang khas senantiasa menghadirkan tantangan teoretis dan praktis. Penelitian ini bertujuan menjawab problematika tersebut dengan memfokuskan kajian pada masyarakat Ngada di Nusa Tenggara Timur. Secara spesifik, studi ini mengonstruksi rancang bangun eklesiologi yang menginkulturasikan ajaran Lumen Gentium ke dalam kearifan lokal woe-sa'o ngaza guna merumuskan model gereja yang menubuh.
Penelitian ini menerapkan metodologi fenomenologi hermeneutis- praktis untuk menyingkap struktur ontologis dari pengalaman hidup para subyek penelitian. Pendekatan ini memungkinkan analisis mendalam terhadap makna persekutuan sebagaimana dihayati dalam ruang, waktu dan relasi eksistensial masyarakat Ngada. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan para pemangku kepentingan kunci, mencakup pemimpin suku (mosa laki), tokoh adat kaum perempuan, dan generasi muda. Hal ini dilakukan demi menjamin representasi perspektif yang komprehensif atas fenomena hidup bersama yang melampaui sekadar organisasi fungsional, melainkan sebagai bentuk partisipasi dalam kehidupan Allah Tritunggal.
Hasil penelitian menegaskan bahwa komunitas adat woe-sa'o ngaza merupakan lokus praeparatio ad evangelium yang menyediakan fondasi bagi persekutuan yang berakar. Melalui analisis fenomenologis, dirumuskan model eklesiologi "Gereja sebagai Sa'o Dewa" (Rumah Allah) yang berpijak pada enam prinsip esensial: (1) pengakuan identitas timbal balik (2) dialog inklusif dalam semangat sinodal, (3) martabat manusia yang setara, (4) kepemimpinan pelayan (mosa meku), (5) pemulihan relasi melalui rekonsiliasi sejarah, dan (6) tanggung jawab kolektif (su'u papa suru). Integritas ini menghasilkan teologi inkulturasi yang mentransformasikan Gereja menjadi kediaman otentik bagi masyarakat Ngada sekaligus mewujudkan persekutuan murid-murid misioner yang sejati.
Availability
| 2103004 | 262 Lin r | Perpustakaan STFT | Available |
Detail Information
| Series Title |
-
|
|---|---|
| Call Number |
262 Lin r
|
| Publisher | STFT Widya Sasana : Malang., 2026 |
| Collation |
xxiii; 354hal: 21x30cm
|
| Language |
Indonesia
|
| ISBN/ISSN |
-
|
| Classification |
262
|
| Content Type |
-
|
| Media Type |
-
|
|---|---|
| Carrier Type |
-
|
| Edition |
-
|
| Subject(s) | |
| Specific Detail Info |
-
|
| Statement of Responsibility |
-
|
Other version/related
No other version available






