<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="20845">
 <titleInfo>
  <title>Perkawinan Tanpa Anak dalam Perspektif Teologi Katolik</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>1. Dr. Yustinus</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>2. Yohanes Willson B. Lena Meo, S.Fil,Lic</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Doja, Alredsius Ngese</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Malang</placeTerm>
   <publisher>STFT Widya Sasana</publisher>
   <dateIssued>2025</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Text</form>
  <extent>xii + 90hlm: 21,5x28cm</extent>
 </physicalDescription>
 <note>Perkawinan dalam Gereja Katolik dipandang sebagai sakramen yang kudus, yang tidak hanya mengikat dua individu secara yuridis, tetapi juga secara rohani dalam persekutuan kasih. Salah satu tujuan utama perkawinan adalah keterbukaan terhadap kelahiran anak. Namun, kenyataan menunjukkan bahwa tidak semua pasangan  suami istri dikaruniai anak. Skripsi ini mengkaji  makna dan nilai teologis dari perkawinan tanpa anak dalam terang Seruan Apostolik Amoris Laetitia artikel 178-180 karya Paus Fransiskus. Dengan menggunakan metode studi pustaka, penulis menelaah secara mendalam bagaimana Gereja memandang martabat perkawinan yang tetap utuh meskipun tanpa keturunan biologis. Artikel-artikel tersebut menekankan bahwa cinta kasih antara suami dan istri tetap menjadi inti dari sakramen perkawinan, dan bahwa kesuburan dalam iman tidak selalu berarti secara biologis, melainkan juga secara spiritual, seperti melalui adopsi. Adopsi dipandang sebagai tindakan kasih yang murah hati dan refleksi dari kesediaan untuk mencintai tanpa syarat. Dalam konteks pastoral, Gereja diajak untuk hadir mendampingi pasangan yang tidak memiliki anak agar tetap merasa diterima, diberdayakan, dan dimampukan untuk hidup berkeluarga yang bermakna. Skripsi ini memberikan kontribusi bagi penguatan pendekatan pastoral Gereja dalam menghadapi realitas keluarga modern, serta mendorong masyarakat untuk menghapus stigma terhadap keluarga tanpa anak dan mendukung mereka dalam menghidupi panggilan kasih mereka secara utuh.</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <subject authority="">
  <topic>Teologi Moral</topic>
 </subject>
 <subject authority="">
  <topic>SKRIPSI 2025</topic>
 </subject>
 <classification>241</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>PERPUSTAKAAN STFT WIDYA SASANA Jln. Terusan Rajabasa 2 Malang</physicalLocation>
  <shelfLocator>241 Doj p</shelfLocator>
  <holdingSimple>
   <copyInformation>
    <numerationAndChronology type="1">21.039</numerationAndChronology>
    <sublocation>Perpustakaan STFT</sublocation>
    <shelfLocator></shelfLocator>
   </copyInformation>
  </holdingSimple>
 </location>
 <slims:image>Cover_SKRIPSI_2023.jpg.jpg</slims:image>
 <recordInfo>
  <recordIdentifier>20845</recordIdentifier>
  <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2025-08-29 10:03:20</recordCreationDate>
  <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2025-10-08 10:31:32</recordChangeDate>
  <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
 </recordInfo>
</mods>
</modsCollection>