<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="2030">
 <titleInfo>
  <title>Nglalu:</title>
  <subTitle>Melihat Fenomena Bunuh Diri dengan Mata Hati</subTitle>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Rochmawati, Ida</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Additional Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Yogyakarta</placeTerm>
   <publisher>Jejak Kata Kita</publisher>
   <dateIssued>2009</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Text</form>
  <extent>xviii + 188hlm: 13x20cm</extent>
 </physicalDescription>
 <note>Nglalu adalah istilah lokal yang sering digunakan oleh masyarakat Guningkidul (dan Jogjakarta pada umumnya) untuk menjelaskan tentang kenekadan seseorang untuk memilik kematian dengan cara bunuh diri. Bunuh diri bukanlah monopoli daerah Gunungkidul saja, tapi bunuh diri adalah masalah universal yang telah sejak lama menjadi salah satu perhatian dunia. Tidak mengherankan jika sejak tahun 1960, sekelompok orang yang peduli di Austria mendirikan organisasi yang sangat concern dalam upaya pencegahan bunuh diri. Dampak psikologis, sosial, dan finansial dari tindak bunuh diri terhadap keluarga dan masyarakat sangat luar biasa. Ironisnya masih banyak yang menutup mata terhadap fakta ini. Namun banyak juga anggota masyarakat memiliki kesadaran dan mengerahkan energi serta pikirannya untuk lebih peduli terhadap masalah ini. Dalam hal ini fokus mereka bukan semata pada upaya pencegahan bunuh diri tetapi juga menggali akar permasalahannya. Maka Nglalu pada hakekatnya bukan untuk mengusik harga diri, tetapi sebuah ungkapan kecintaan pada sebuah tempat indah bernama Gunungkidul sekaligus mengajak untuk membangun hati nurani yang mungkin sedang tertidur lelap.</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <subject authority="">
  <topic>bunuh diri</topic>
 </subject>
 <classification>364.15</classification>
 <identifier type="isbn">9789791985413</identifier>
 <location>
  <physicalLocation>PERPUSTAKAAN STFT WIDYA SASANA Jln. Terusan Rajabasa 2 Malang</physicalLocation>
  <shelfLocator>364.15 Roc n</shelfLocator>
  <holdingSimple>
   <copyInformation>
    <numerationAndChronology type="1">15119</numerationAndChronology>
    <sublocation></sublocation>
    <shelfLocator>364.15 Roc n</shelfLocator>
   </copyInformation>
  </holdingSimple>
 </location>
 <slims:image>Nglalu.jpg.jpg</slims:image>
 <recordInfo>
  <recordIdentifier>2030</recordIdentifier>
  <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2019-11-07 18:21:44</recordCreationDate>
  <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2023-01-17 13:22:24</recordChangeDate>
  <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
 </recordInfo>
</mods>
</modsCollection>