<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="2008">
 <titleInfo>
  <title>Nilai-Nilai Kearifan Lokal dalam Upacara Tiwah Dayak Ngaju Kalimantan Tengah (Tinjauan Filosofis-Antropologis)</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>1. Raymundus I Made Sudhiarsa, Ph.D</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Additional Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Fringki, Agustinus</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Additional Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Malang</placeTerm>
   <publisher>STFT Widya Sasana</publisher>
   <dateIssued>2015</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Text</form>
  <extent>vii + 97hlm: 21,5x28cm</extent>
 </physicalDescription>
 <note>Setelah manusia lahir, ia bahkan terlalu tua untuk mengalami kematian demikian kata seorang filsuf. Kalimat tersebut hendak menyatakan betapa realistis kematian kerap mengganggu manusia sepanjang sejarah hidupnya. Kematian bagi sebagian orang menjadi momen yang sangat ditakuti. Sepanjang segala abad berbagai cara telah dilakukan untuk menunda dan memperlambat kematian, baik melalui jalan magis hingga pada peralatan teknologi modern yang canggih. Tapi toh kematian tetap terjadi. Semua makhluk yang bernafas pasti mengalami kematian.&#13;
Bagi sebagian orang pula momen kematian menjadi sebuah perayaan. Perayaan kehidupan kembali, manusia memperoleh hidup yang baru setelah menyeberangi lembah kematian.Manusia Dayak Ngaju meyakini di balik realitas kematian yang kelam terpancar sinar kehidupan sejati persatuan dengan Sang Pencipta di surga. Untuk sampai kepadaNya harus dilaksanakan Upacara Tiwah. Dengan kata lain Upacara Tiwah adalah sebuah perayaan kehidupan di seberang kematian. Karena Tiwah sebuah perayaan kehidupan tentu saja di dalamnya terkandung nilai-nilai kebujaksanaan yang berguna bagi manusia menjalani hidupnya hari demi hari. Dengan alasan inilah penulis mengangkat tema ' Nilai-Nilai Kearifan Lokal dalam Upacara Tiwah Dayak Ngaju Kalimantan Tengah (tinjauan filosofis antropologis)</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <subject authority="">
  <topic>kebudayaan Dayak</topic>
 </subject>
 <subject authority="">
  <topic>SKRIPSI 2015</topic>
 </subject>
 <classification>959.84</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>PERPUSTAKAAN STFT WIDYA SASANA Jln. Terusan Rajabasa 2 Malang</physicalLocation>
  <shelfLocator>959.84 FRI n</shelfLocator>
  <holdingSimple>
   <copyInformation>
    <numerationAndChronology type="1">11.006</numerationAndChronology>
    <sublocation></sublocation>
    <shelfLocator>959.84 Fri n</shelfLocator>
   </copyInformation>
  </holdingSimple>
 </location>
 <slims:image>Cover_SKRIPSI_baru.jpg</slims:image>
 <recordInfo>
  <recordIdentifier>2008</recordIdentifier>
  <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2019-11-07 18:21:44</recordCreationDate>
  <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2021-04-13 08:50:12</recordChangeDate>
  <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
 </recordInfo>
</mods>
</modsCollection>