<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="19446">
 <titleInfo>
  <title>Imajinasi sebagai Pendamping Pendidikan:</title>
  <subTitle>Sebuah Pergulatan Filosofis Martha Nussbaum dalam Merawat Kemanusiaan</subTitle>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Damayanti, Cicilia</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Yogyakarta</placeTerm>
   <publisher>Jivaloka Mahacipta</publisher>
   <dateIssued>2021</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Text</form>
  <extent>xvi + 218hlm; 14x20,5cm</extent>
 </physicalDescription>
 <note>Perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan dewasa ini misalnya, bukanlah hal yang harus dipertentangkan dengan arah dasar humaniora, akan tetapi ketika pendidikan diarahkan pada keuntungan ekonomi dan kesejahteraan, teknologi dan ilmu pengetahuan pun terpacu untuk mendukung kepentingan tersebut. Kecenderungan untuk mengejar hasil atau capaian secara eksesif (achievements) dalam pendidikan, membuat pendidikan model mesin produksi ini semakin menampakkan kontras yang melawan kemanusiaan. Akan tetapi kemampuan-kemampuan manusia (human capabilities) lainnya yang beragam merupakan arah yang bisa berpadanan dengan kemanusiaan, dan karena itu perlu dilanjut-teruskan. Ia meneliti adanya kemampuan-kemampuan seperti kemampuan hidup, menjaga kesehatan, integritas, rasa, imajinasi dan pemikiran, kemampuan emosional, nalar praktis, afiliasi dan sebagainya. Namun tujuan pendidikan bukan hanya mengembangkan kemampuan-kemampuan itu. Dalam konteks pemahaman masyarakat yang dinamis, kemampuan-kemampuan itu tidak ada artinya jikalau tidak difungsikan. Oleh karena itu, tulis Nussbaum pendidikan hendaknya juga harus sampai pada persoalan keadilan, kesetaraan hak, kebebasan dan demokrasi. Sebab hal-hal ini sangat berperan dalam proses fungsionalisasi kemampuan-kemampuan yang dicapai oleh anak didik, khususnya juga kaum perempuan, yang perannya sering dinomor-duakan karena sikap diskriminatif.</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <subject authority="">
  <topic>pendidikan-filsafat</topic>
 </subject>
 <classification>370.1</classification>
 <identifier type="isbn">9786239583194</identifier>
 <location>
  <physicalLocation>PERPUSTAKAAN STFT WIDYA SASANA Jln. Terusan Rajabasa 2 Malang</physicalLocation>
  <shelfLocator>370.1 Dam i</shelfLocator>
  <holdingSimple>
   <copyInformation>
    <numerationAndChronology type="1">20815</numerationAndChronology>
    <sublocation>Perpustakaan STFT</sublocation>
    <shelfLocator>370.1 Dam i</shelfLocator>
   </copyInformation>
  </holdingSimple>
 </location>
 <slims:image>Imajinasi_sebagai_Pendamping_Pendidikan.jpg.jpg</slims:image>
 <recordInfo>
  <recordIdentifier>19446</recordIdentifier>
  <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2024-03-15 08:16:11</recordCreationDate>
  <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2024-07-27 09:25:50</recordChangeDate>
  <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
 </recordInfo>
</mods>
</modsCollection>