<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="1775">
 <titleInfo>
  <title>Konsep Kebebasan Politik Isaiah Berlin:</title>
  <subTitle>Kritik terhadap Universalisme Pencerahan</subTitle>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>1. Prof. Dr. FX. Eko Armada Riyanto</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Additional Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>2. Pius Pandor, Lic</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Additional Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Simamora, Chandra Susilo</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Additional Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Malang</placeTerm>
   <publisher>STFT Widya Sasana</publisher>
   <dateIssued>2016</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Text</form>
  <extent>ix + 131hlm: 28x21,5cm</extent>
 </physicalDescription>
 <note>Zaman pencerahan (enlightenment) ditandai dengan pendewaan terhadap rasionalitas manusia. Pencerahan adalah penolakan terhadap ajaran dogmatis dan metafisis abad pertengahan. Salah satu momen yang merangkum pemberontakan akal budi terhadap dogmatisme, tradisionalisme, agama, takhayul, kebodohan dan penindasan dari abad pertengahan adalah Revolusi Prancis. Semenjak pencerahan, manusia percaya bahwa dengan akal budinya ia bebas dan mampu mencapai kebahagiaan dan menciptakan surga di dunia ini. Tidak mengherankan bahwa rasionalitas telah membawa banyak perkembangan di dalam hidup manusia. Tulisan ini mencoba membahas konsep kebebasan politik Isaiah Berlin yang didasarkan pada kritik terhadap universalisme pencerahan. Bagi Berlin, zaman pencerahan memang menolak universalisme yang metafisis dari abad pertengahan, tetapi ia melantunkan kembali universalisme baru: rasionalitas. Berlin melihat bahwa sejarah tragedi kemanusiaan yang terjadi di abad ke-20 (nazisme, komunisme, perang dunia ke-2 dan perang dingin) tidak lain disebabkan oleh universalisme pencerahan ini. Peristiwa pembantaian manusia yang terjadi di abad ini, bagi Berlin, tidak lain adalah keinginan akan kebebasan dalam bentuk positif (freedom to). Gagasan tentang kebebasan positif ini dimengerti sebagai realisasi diri (self-realisation) atau penentuan diri (self-direction) dari diri sejati (real-self). Bila hal ini diterapkan dalam ranah politik, maka akan muncul kelompok atau pemimpin totaliter yang merasa bahwa ia mengetahui tujuan dan realisasi diri yang sejati bagi seluruh manusia. Orang yang tidak mengetahui tujuan sejati ini adalah orang yang dianggap tidak rasional dan tidak bebas. Dengan kata lain, orang yang bebas adalah mereka yang rasional, yang tahu apa yang dikehendaki diri sejati (real-self). Konsepsi kebebasan Berlin terangkum di dalam kebebasan negatif (freedom from) yang pluralistis. Ia membela kebebasan negatif, yaitu ketiadaan halangan bagi individu untuk membuat pilihan dari antara nilai-nilai objektif yang tidak selalu bersesuaian satu sama lain. Ia juga meyakini bahwa nilai-nilai plural yang dikejar manusia tidak bisa diperbandingkan (incommensurable). Halnya berlawanan dengan universalisme pencerahan yang meyakini bahwa seluruh nilai yang ada dapat diukur dengan skala hitung tunggal: rasionalitas. Universalisme pencerahan ini melantunkan kembali monisme moral yang sudah ada sejak zaman Yunani kuno (Plato). Konsep kebebasan Berlin ini menjadi sangat menarik ketika halnya dihadapkan pada ranah politik kontemporer: pertentangan antara politik identitas dan liberalisme. Politik identitas membela ciri khas dari seorang individu dan kelompok minoritas, sementara liberalisme melihat semua individu sama saja. Dengan demikian liberalisme cenderung menghilangkan keunikan dan ciri khas dari kelompok-kelompok minoritas. Berlin berdiri di antara kedua kubu ini. Berlin memang berangkat dari kubu liberalis, tetapi ia tidak spenuhnya menerima prinsip universalisme dari kaum liberalis. Berlin membela kebebasan individu, tetapi kebebasan itu tidak menjadi absolut sebab ia mengafirmasi perbedaan dan pluralitas nilai. Akhirnya konsepsi kebebasan Berlin ini masih sangat relevan terhadap Indonesia yang juga sangat pluralistis.</note>
 <subject authority="">
  <topic>Filsafat politik</topic>
 </subject>
 <subject authority="">
  <topic>filsafat Inggris</topic>
 </subject>
 <subject authority="">
  <topic>SKRIPSI 2016</topic>
 </subject>
 <classification>192</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>PERPUSTAKAAN STFT WIDYA SASANA Jln. Terusan Rajabasa 2 Malang</physicalLocation>
  <shelfLocator>192 SIM k</shelfLocator>
  <holdingSimple>
   <copyInformation>
    <numerationAndChronology type="1">12.033</numerationAndChronology>
    <sublocation></sublocation>
    <shelfLocator>192 SIM k</shelfLocator>
   </copyInformation>
  </holdingSimple>
 </location>
 <slims:image>Cover_SKRIPSI_baru.jpg</slims:image>
 <recordInfo>
  <recordIdentifier>1775</recordIdentifier>
  <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2019-11-07 18:21:44</recordCreationDate>
  <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2019-11-07 18:21:44</recordChangeDate>
  <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
 </recordInfo>
</mods>
</modsCollection>