<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="17672">
 <titleInfo>
  <title>Klaim Kemutlakan, Konflik Sosial dan Reorientasi Keberagaman [Buku:</title>
  <subTitle>Agama Kekerasan - Membongkar Eksklusivisme]</subTitle>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Arifin, Syamsul</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Riyanto, F.X. Eko Armada (ed)</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Editor</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Malang</placeTerm>
   <publisher>Dioma</publisher>
   <dateIssued>2000</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Text</form>
  <extent>iii + 46-52hlm; 14x21cm</extent>
 </physicalDescription>
 <relatedItem type="series">
  <titleInfo/>
  <title>Seri Filsafat Teologi Widya Sasana; Vol.7</title>
 </relatedItem>
</mods>
<note>Apakah manusia beragama untuk berkoflik? Pertanyaan ini selalu muncul setiap kali terjadi pertentangan, kekerasan dan kerusuhan sosial yang melibatkan komunitas agama. Ada nuansa kegetiran dalam pertanyaan itu, karena seringnya agama tampil dalam wajah paradoks. Agama sebenarnya merupakan medium transendental, sekaligus profan, yang digunakan oleh Tuhan dan manusia untuk saling menyapa. Tuhan menyapa manusia melalui firman-Nya, dan melalui firman itu pula, manusia menyapa Tuhan. Dalam perspektif mitisisme, atau sufisme dalam Islam, proses saling menyapa itu terjadi, terjadi lebih mendalam lagi, yakni terjadi saling kemanunggalannya antara Tuhan dan manusia yang tidak dapat dikonstruksikan secara verbalistik atau tak terlukiskan (ineffability), seperti dinyatakan oleh William James. Dengan proses saling menyapa itu, dan bahkan kemanunggalan antara manusia dan Tuhan ke dalam, manusia selalu diharapkan berada dalam realitas primordialnya sebagai makhluk religius dan keluar, manusia selalu mengasah komitmen kemanusiaanya yang dibuktikan secara aktif terlibat dalam berbagai kerja kemanusiaan. Inilah cita-cita luhur yang terdapat pada semua agama.</note>
<note type="statement of responsibility"></note>
<subject authority="">
 <topic>Agama, kerukunan</topic>
</subject>
<subject authority="">
 <topic>Teologi</topic>
</subject>
<classification>230</classification>
<identifier type="isbn">ISSN14119005</identifier>
<location>
 <physicalLocation>PERPUSTAKAAN STFT WIDYA SASANA Jln. Terusan Rajabasa 2 Malang</physicalLocation>
 <shelfLocator>230 Riy a</shelfLocator>
 <holdingSimple>
  <copyInformation>
   <numerationAndChronology type="1">10224-D</numerationAndChronology>
   <sublocation>Perpustakaan STFT</sublocation>
   <shelfLocator>230 Riy a</shelfLocator>
  </copyInformation>
 </holdingSimple>
</location>
<slims:image>Agama_Kekerasan_Membongkar.jpg.jpg</slims:image>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>17672</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2021-04-16 09:46:09</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2021-04-19 09:54:40</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>