<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="17318">
 <titleInfo>
  <title>Negara, Agama dan Hak-hak Asasi Manusia</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Madung, Otto Gusti</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Maumere</placeTerm>
   <publisher>Ledalero</publisher>
   <dateIssued>2014</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Text</form>
  <extent>xiv + 175hlm; 13,5x20,5cm</extent>
 </physicalDescription>
 <note>Mantan Presiden Mahkamah Konstitusi Jerman, Ernst Wolfgang Bockenforde, pernah mengungkapkan sebuah adagium paradoksal tentang relasi antara agama dan negara, Der Staat lebt von Vorausetzungen, die er selbst nicht garantieren kann artinya negara hidup dari syarat-syarat yang tak dapat diciptakannya sendiri. Syarat-syarat dimaksud adalah moralitas substansial yang membentuk akhlak warga. Negara membutuhkan warga yang bermoral agar dapat menata sebuah kehidupan bersama dan membangun jaringan solidaritas. Solidaritas sosial tak pernah bertahan jika sebuah komunitas hanya diisi oleh para egois. Akan tetapi kekuasaan negara tidak dapat menciptakan sendiri moralitas. Sebab jika hal tersebut terjadi negara akan terperosok ke dalam bahaya totalitarisme yang mengintervensi ranah privat dan membonsai kebebasan warganya. Moralitas sudah masuk dalam ranah masyarakat di mana agama, pendidikan, paguyuban-paguyuban dan organisasi-organisasi masyarakat sipil berkiprah. Kekerasan atas nama agama, intoleransi dan rezim moralitas merupakan patologi sosial yang berakar pada rancunya pemahaman tentang relasi antara agama dan negara. Buku Negara, Agama dan HAM coba ikut memberikan kontribusi dalam diskursus tentang relasi antara agama dan negara yang berkembang di tanah air.</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <subject authority="">
  <topic>hak asasi manusia</topic>
 </subject>
 <subject authority="">
  <topic>Filsafat politik</topic>
 </subject>
 <classification>320.01</classification>
 <identifier type="isbn">9789799447944</identifier>
 <location>
  <physicalLocation>PERPUSTAKAAN STFT WIDYA SASANA Jln. Terusan Rajabasa 2 Malang</physicalLocation>
  <shelfLocator>320.01 Mad n</shelfLocator>
  <holdingSimple>
   <copyInformation>
    <numerationAndChronology type="1">19995</numerationAndChronology>
    <sublocation>Perpustakaan S-2</sublocation>
    <shelfLocator>320.01 Mad n</shelfLocator>
   </copyInformation>
  </holdingSimple>
 </location>
 <slims:image>Negara-Agama-HAM.jpg.jpg</slims:image>
 <recordInfo>
  <recordIdentifier>17318</recordIdentifier>
  <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2020-09-12 10:51:45</recordCreationDate>
  <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2020-12-21 09:46:54</recordChangeDate>
  <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
 </recordInfo>
</mods>
</modsCollection>