<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="1721">
 <titleInfo>
  <title>Nilai-Nilai Filosofis Dodo Budaya Suku Besi Manggarai dalam Terang Filsafat Sosial Karl Marx</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>2. Dr. Valentinus</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Additional Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>1. Pius Pandor, Lic.Phil.</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Additional Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Marianto, Firminus</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Additional Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Malang</placeTerm>
   <publisher>STFT Widya Sasana</publisher>
   <dateIssued>2018</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Text</form>
  <extent>xii + 182hlm: 21,5x28cm</extent>
 </physicalDescription>
 <note>Suku Besi merupakan sebuah suku yang berada di wilayah Kabupaten Manggarai Barat. Suku Besi memiliki beragam tradisi, adat istiadat dan budaya. Salah satunya adalah budaya dodo. Budaya dodo dapat diartikan sebagai aktivitas gotong royong dalam menyelesaikan sebuah pekerjaan. Seiring berkembangnya jaman, masyarakat suku Besi memandang dodo secara baru yakni aktivitas gotong royong dalam menyekolahkan anak, kumpul kope, tiba sida kelas, tiba sida kawing, dan UBSP. Masyarakat suku Besi menyadari bahwa budaya dodo merupakan sebuah budaya yang bertujuan untuk mengangkat martabat manusia sebagai mahluk pekerja dan mahluk sosial. Selain itu, budaya dodo yang dipraktekkan oleh masyarakat suku Besi bertujuan untuk membina, membentuk, dan meningkatkan relasi persaudaraan serta kekeluargaan dalam tata kehidupan bersama. Karl Marx merupakan sosok filosofis yang mencetuskan filsafat sosial secara baru. Filsafat sosial yang dicetuskan Karl Marx pada dasarnya memiliki tujuan yakni mengngkat dan membela hakekat manusia sebagai mahluk pekerja (homo faber) dan mahluk sosial (homo socius). Bagi Karl Marx, hal ini dapat diaktualkan apabila sistem hak milik pribadi, sistem kelas-kelas, dan sistem pembagian kerja dalam tata kehidupan bersama ditiadakan. Metode yang digunakan dalam karya tulis ini adalah wawancara dan studi pustaka yang dibungkus dalam tinjauan fenomenologis. Artinya, penulis berusaha menggali dan mengkritisi fenomena-fenomena dalam budaya dodo dan filsafta sosial Karl Marx yang sekiranya dapat menyentuh, berguna dan relevan bagi kehidupan manusia di jaman ini. Penulis menemukan bahwa budaya dodo dan filsafat sosial Karl Marx memiliki relasi timbal balik terutama dalam pandangan mengenai hakekat manusia sebagai homo faber dan homo socius, dalam usaha memberantas relasi tuan-budak, dan dalam meningkatkan aspek komunio dalam tata kehidupan bersama. Penulis juga menemukan nilai-nilai filosofis dalam budaya dodo dan filsafat sosial Karl Marx seperti: nilai sosial kebersamaan, nilai solidaritas, nilai cekatan, kepekaan, nilai kerja dan nilai gotong royong yang dibungkus dalam nilai kemanusiaan, nilai persatuan, nilai musyawarah, mufakat, dan nilai keadilan. Nilai-nilai filosofis ini tentunya sangat berguna bagi manusia dewasa ini terutama untuk meningkatkan kualitas hidup dan keluar dari segala bentuk penindasan atau eksploitasi. Selain itu, nilai-nilai filosofis ini bertujuan agar manusia mampu mengaktualisasikan diri secara utuh dan universal. Nilai-nilai filosofis yang terkandung dalam budaya dodo dan filsafat sosial Karl Marx pada dasarnya selalu bersinggungan dengan penghargaan terhadap liyan dalam tata kehidupan bersama. Dengan kata lain, nilai-nilai filosofis tersebut dapat diaktualkan oleh siapa saja yang memiliki kemauan untuk mencintai budaya, mencintai liyan dan mencintai dirinya sendiri. Dengan mengaktualisasikan nilai-nilai filosofis tersebut bukan tidak mungkin penghargaan terhadap hakekat manusia sebagai homo faber dan socius pun dijunjung tinggi dalam tata kehidupan bersama.</note>
 <subject authority="">
  <topic>filsafat Jerman</topic>
 </subject>
 <subject authority="">
  <topic>SKRIPSI 2018</topic>
 </subject>
 <classification>193</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>PERPUSTAKAAN STFT WIDYA SASANA Jln. Terusan Rajabasa 2 Malang</physicalLocation>
  <shelfLocator>193 Mar n</shelfLocator>
  <holdingSimple>
   <copyInformation>
    <numerationAndChronology type="1">14.032</numerationAndChronology>
    <sublocation></sublocation>
    <shelfLocator>193 Mar n</shelfLocator>
   </copyInformation>
  </holdingSimple>
 </location>
 <slims:image>Cover_SKRIPSI_baru.jpg.jpg</slims:image>
 <recordInfo>
  <recordIdentifier>1721</recordIdentifier>
  <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2019-11-07 18:21:44</recordCreationDate>
  <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2019-11-07 18:21:44</recordChangeDate>
  <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
 </recordInfo>
</mods>
</modsCollection>