<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="17190">
 <titleInfo>
  <title>Adat Istiadat Menanam Pala sebagai Kearifan Lokal Suku Mbaham-Matta dalam Rangka Penanggulangan Krisis Ekologi di Fakfak Papua Barat dalam Terang Laudato Si (No. 143-146)</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>3. Dr. Antonius Denny Firmanto, M.Pd</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>1. Dr. Yustinus</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>2. Raymundus I Made Sudhiarsa, Ph.D</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Hombahomba, Marten</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Malang</placeTerm>
   <publisher>STFT Widya Sasana</publisher>
   <dateIssued>2019</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Text</form>
  <extent>xxxi + 197hlm; 21,5x28cm</extent>
 </physicalDescription>
 <note>Lingkungan hidup saat ini tengah mengalami krisis atau kerusakan. Krisis lingkungan hidup atau krisis ekologi terjadi karena berbagai faktor. Salah satu faktor adalah karena ulah atau perbuatan manusia sendiri. Perilaku manusia terhadap alam yang tanpa nurani pasti berujung pada penurunan mutu atau kualitas alam dalam menjalankan fungsinya. Mentalitas manusia yang memandang alam sebagai objek laba, membuat alam diperas dan dimanfaatkan secara masif demi mendatangkan keuntungan bagi manusia. Manusia modern mungkin kehilangan etika dalam mengelola lingkungan hidup. Berbeda dengan masyarakat tradisional yang memandang alam sebagai bagian yang tidak terpisahkan dengan kehidupannya. Persoalan krisis ekologi ini menjadi menarik untuk penulis tanggapi. Menurut penulis diperlukan suatu etika yang mampu membantu manusia dalam mengelola lingkungan hidup. Krisis ekologi ini tidak perlu terjadi jika manusia menghargai setiap nilai kehidupan yang ada pada alam dengan perlakuan dan mentalitas yang menghargai, menghormati, merawat dan melestarikan. Norma-norma yang sederhana dalam masyarakat tradisional misalnya sangat menunjukkan cinta dan respek terhadap alam yang ditempati. Etika berlingkungan yang penulis contohkan di sini berasal dari etnis Mbaham-Matta di Fakfak Papua Barat. Etnis Mbaham Matta dalam adat istiadat menanam pala memberi suatu gambaran serta contoh bagaimana mentalitas manusia yang beretika dalam berlingkungan dengan cara menghargai dan menghormati setiap nilai kehidupan pada alam. Kebudayaan lokal atau kearifan lokal dalam adat istiadat misalnya telah lebih dulu memberi suatu contoh yang baik. Gereja Katolik oleh Paus Fransiskus lewat ensiklik Laudato Si' memberi perhatian terhadap krisis ekologi. Krisis ekologi hendaknya dipahami secara integral. Artinya secara holistik baik segi ekonomi, sosial dan budaya. Persoalan krisis ekologi ini penulis melihatnya dalam terang pemikiran ensiklik Laudato Si' khususnya artikel ekologi budaya no. 143-146. Di sini Paus Fransiskus secara khusus mengajak berbagai pihak untuk memberikan perhatian kepada masyarakat lokal dan kebudayaannya teristimewa dalam merawat lingkungan alam. Masyarakat lokal dengan kearifan lokalnya sangat beretika dalam memanfaatkan lingkungan alam. Dalam terang ensiklik Laudato Si' penulis menemukan sejumlah hal yang baik yang berguna bagi pelestarian lingkungan sendiri tetapi juga bagi pelestarian budaya dari masyarakat lokal. Temuan-temuan itu yang menjadi kekuatan, dalam melihat tantangan krisis ekologi yang sedang dihadapi. Pada kesempatan ini pun penulis memberi beberapa masukan dan rekomendasi kepada pihak-pihak yang berkaitan dengan pelestarian budaya lokal yang menunjang pemeliharaan lingkungan alam.</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <subject authority="">
  <topic>TESIS 2019</topic>
 </subject>
 <subject authority="">
  <topic>ekologi</topic>
 </subject>
 <classification>261.836.2</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>PERPUSTAKAAN STFT WIDYA SASANA Jln. Terusan Rajabasa 2 Malang</physicalLocation>
  <shelfLocator>261.836.2 Hom a</shelfLocator>
  <holdingSimple>
   <copyInformation>
    <numerationAndChronology type="1">16.01018</numerationAndChronology>
    <sublocation>Perpustakaan STFT</sublocation>
    <shelfLocator>261.836.2 Hom a</shelfLocator>
   </copyInformation>
  </holdingSimple>
 </location>
 <slims:image>Cover_TESIS_baru.jpg.jpg</slims:image>
 <recordInfo>
  <recordIdentifier>17190</recordIdentifier>
  <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2020-06-23 11:05:36</recordCreationDate>
  <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2021-06-23 10:31:11</recordChangeDate>
  <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
 </recordInfo>
</mods>
</modsCollection>