<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="16642">
 <titleInfo>
  <title>Perlunya Upaya Persiapan Perkawinan bagi Remaja Katolik dalam Keluarga Kawin Campur sebagai Satu Bentuk Penerapan dari Familiaris Consortio 66</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>1. Dr. Alfonsus Tjatur Raharso</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Additional Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Endrariska, Arlian</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Additional Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Malang</placeTerm>
   <publisher>STFT Widya Sasana</publisher>
   <dateIssued>2010</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Text</form>
  <extent>ix + 63hlm; 21x28cm</extent>
 </physicalDescription>
 <note>Perkawinan dipandang oleh Gereja Katolik sebagai sesuatu yang harus dihormati dan dijunjung tinggi. Perkawinan bukanlah sekedar keinginan seorang pria dan wanita untuk bersatu membangun sebuah keluarga. Lebih dari itu, perkawinan adalah kehendak dari Allah sendiri. Allah sendirilah yang menghendaki persatuan antara pria dan wanita dalam sebuah perkawinan, sebab melalui perkawinan Allah ingin mengungkapkan kasihNya kepada manusia dan sekaligus memberi tanggung jawab kepada manusia untuk melanjutkan tugas dan karya pewartaan cinta kasih di bumi ini. Melihat begitu bernilainya sebuah perkawinan ini, tentunya tidaklah mudah bagi Gereja Katolik untuk sekedar memperbolehkan umatnya untuk melangsungkan perkawinan begitu saja. Apalagi ada banyak tantangan dan cobaan yang akan dihadapi oleh calon pengantin dalam menjalani kehidupan berkeluarga nantinya. Oleh karena itu, sepasang calon pengantin perlu menyiapkan diri sematang mungkin sebelum mereka melangsungkan perkawinan. Persiapan menjelang perkawinan ini bukanlah semata-mata tugas dari kedua calon pengantin saja, tetapi juga menjadi tugas dan kewajiban dari keluarga calon pengantin dan pihak Gereja Katolik sendiri. Persiapan sebuah perkawinan juga tidak hanya membutuhkan waktu satu atau dua bulan saja, melainkan diperlukan waktu yang sangat lama, bahkan ketika calon pengantin masih dalam usia dini. Hal ini serupa dengan apa yang diungkapkan oleh Paus Yohanes Paulus II dalam surat apostolik Familiaris Consortio 66 bahwa persiapan perkawinan perlu dilaksanakan secara bertahap dan berkelanjutan sebelum perkawinan.</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <subject authority="">
  <topic>SKRIPSI 2010</topic>
 </subject>
 <subject authority="">
  <topic>kristiani dan perkawinan</topic>
 </subject>
 <classification>261.835</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>PERPUSTAKAAN STFT WIDYA SASANA Jln. Terusan Rajabasa 2 Malang</physicalLocation>
  <shelfLocator>261.835 End p</shelfLocator>
  <holdingSimple>
   <copyInformation>
    <numerationAndChronology type="1">06.000006</numerationAndChronology>
    <sublocation>Perpustakaan STFT</sublocation>
    <shelfLocator>261.835 End p</shelfLocator>
   </copyInformation>
  </holdingSimple>
 </location>
 <slims:image>Cover_SKRIPSI_baru.jpg</slims:image>
 <recordInfo>
  <recordIdentifier>16642</recordIdentifier>
  <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2019-11-07 18:21:44</recordCreationDate>
  <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2021-06-19 08:40:01</recordChangeDate>
  <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
 </recordInfo>
</mods>
</modsCollection>