<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="16122">
 <titleInfo>
  <title>Republik Tanpa Ruang Publik:</title>
  <subTitle>Catatan dari Nias, Meulaboh dan Merauke</subTitle>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Wibowo, Sunaryo Hadi</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Additional Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Yogyakarta</placeTerm>
   <publisher>IRE Press</publisher>
   <dateIssued>2005</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Text</form>
  <extent>xiv + 188hlm: 15x21cm</extent>
 </physicalDescription>
 <note>Pada masa Soeharto, kekuatan kapitalisme semu dan otoritarianisme terbukti mendikte ruang publik, dimana berlangsung sebuah aktifitas ruang publik yang dipenuhi oleh doktrin pertumbuhan ekonomi yang berbalut dengan ketakutan terhadap moncong senjata. Sekarang pada masa reformasi, ada angin besar yang sudah terlanjur berhembus yaitu liberalisme. Dari liberasi lahir demokrasi pada satu sisi dan kapitalisasi pada sisi yang lain. Dua kekuatan itu demokrasi dan kapitalisasi bisa dikatakan sudah dengan leluasa menjalankan sepak terjangnya. Bahkan terkesan keterlaluan. Media massa hanya mengabdi pada rating tanpa peduli pada pendidikan; tata kota hanya mengindahkan kekuatan modal tanpa peduli pada hak publik terhadap ruang kota. Baik ruang publik abstrak maupun ruang publik material akhirnya hanya menjadi hamba dari tindakan konsumsi belaka. Dan ada yang terlupakan dalam proses liberalisasi yaitu kemerdekaan sipil dan pemenuhan hak-hak sipil dalam ruang publik. Diskursivitas antara ruang publik politis dan sistem politik itulah realisasi ide kedaulatan rakyat di dalam masyarakat majemuk.</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <subject authority="">
  <topic>demokrasi</topic>
 </subject>
 <classification>323.4</classification>
 <identifier type="isbn">9799818249</identifier>
 <location>
  <physicalLocation>PERPUSTAKAAN STFT WIDYA SASANA Jln. Terusan Rajabasa 2 Malang</physicalLocation>
  <shelfLocator>323.4 Wib r</shelfLocator>
  <holdingSimple>
   <copyInformation>
    <numerationAndChronology type="1">12610</numerationAndChronology>
    <sublocation></sublocation>
    <shelfLocator>323.4 Wib r</shelfLocator>
   </copyInformation>
  </holdingSimple>
 </location>
 <slims:image>Republik_Tanpa_Ruang_Publik.jpg.jpg</slims:image>
 <recordInfo>
  <recordIdentifier>16122</recordIdentifier>
  <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2019-11-07 18:21:44</recordCreationDate>
  <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2021-03-03 09:14:17</recordChangeDate>
  <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
 </recordInfo>
</mods>
</modsCollection>