<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="16121">
 <titleInfo>
  <title>Hak Asasi Manusia:</title>
  <subTitle>Antara Skenario Kemanusiaan dan Proyek Global</subTitle>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Fakih, Mansour</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Additional Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Yogyakarta</placeTerm>
   <publisher>INSIST Press</publisher>
   <dateIssued>2001</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Text</form>
  <extent>226hlm: 17,5x24cm</extent>
 </physicalDescription>
 <relatedItem type="series">
  <titleInfo/>
  <title>WACANA Jurnal Ilmu Sosial Transformatif VIII/2001</title>
 </relatedItem>
</mods>
<note>Hak Asasi Manusia merupakan konsep yang kini mendapatkan popularitas luar biasa. Dengan beberapa standar tertentu kita dapat menyebut sebuah kekuasaan sebagai pelanggar HAM. Belum lagi dengan nilai tertentu pula kita menempatkan seorang figur dalam kedudukan sebagai pejuang HAM. Karena memang sebagai konsep yang diklaim bermuatan universal maka daya ikat nilai-nilai HAM hampir mirip dengan peran sebuah agama. Sangat wajar jika kemudian beberapa kalangan menyebut HAM sebagai 'agama sipil'. Hal ini tidak bermasalah. Justru universalisme itu sering mendapat banyak pertanyaan dan gugatan dari berbagai kalangan. Ciri lain yang juga mendapat tantangan adalah peran HAM sebagai 'pengawas' bagi setiao kekuasaan. Hingga dalam kadar tertentu kriteria kepatuhan atas HAM sering berubah-ubah sekaligus dasar ketentuan 'normatif HAM' dimonopoli oleh badan tertentu saja. Satu hal yang positif dari HAM adalah kandungan nilai-nilai kemanusiaan yang dapat dimanfaatkan untuk melihat sejauh mana sebenarnya kekuasaan memberi tempat pada nilai-nilai dalam pengambilan kebijakannya. Wacana dalam edisi ini kembali mengetengahkan gagasan kritis dan alternatif mengenai HAM. Yang mungkin menjadi penting dibaca bagi kaum yang 'mengaku' aktivis penegak HAM. Pengambil kebijakan dan masyarakat awam. Sajian yang komplit dan kadang terasa 'provokatif' untuk persoalan yang kini makin populer, Hak Asasi Manusia.</note>
<note type="statement of responsibility"></note>
<subject authority="">
 <topic>Wanita</topic>
</subject>
<subject authority="">
 <topic>pendidikan</topic>
</subject>
<subject authority="">
 <topic>hak asasi</topic>
</subject>
<subject authority="">
 <topic>petani</topic>
</subject>
<classification>323.4</classification>
<identifier type="isbn">ISSN14101289</identifier>
<location>
 <physicalLocation>PERPUSTAKAAN STFT WIDYA SASANA Jln. Terusan Rajabasa 2 Malang</physicalLocation>
 <shelfLocator>323.4 Fak h</shelfLocator>
 <holdingSimple>
  <copyInformation>
   <numerationAndChronology type="1">10634</numerationAndChronology>
   <sublocation></sublocation>
   <shelfLocator>323.4 Fak h</shelfLocator>
  </copyInformation>
 </holdingSimple>
</location>
<slims:image>Hak_Asasi_Manusia-Antara_Skenario.jpg.jpg</slims:image>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>16121</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2019-11-07 18:21:44</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2021-02-16 07:54:24</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>