<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="15809">
 <titleInfo>
  <title>Bersikap Adil Jender:</title>
  <subTitle>Manifesto Keberagaman Keluarga Jogja</subTitle>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Yusdani (ed)</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Additional Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Yogyakarta</placeTerm>
   <publisher>Pusat Studi Islam Univ. Islam Indonesia</publisher>
   <dateIssued>2009</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Text</form>
  <extent>xxvi + 453hlm: 15x23cm</extent>
 </physicalDescription>
 <note>BILA kita membuka lembaran sejarah, segera akan ditemukan sederet catatan buram tentang eksistensi perempuan. Setumpuk atribut yang bernada negatif disematkan pada perempuan: dianggap makhluk pelengkap, manusia kelas dua, memiliki akal pikiran setengah dari rasio laki-laki, dan sebagainya. Bahkan, acap kali hak, kewajiban, serta keberadaannya bergantung sepenuhnya dan ditentukan oleh laki-laki. Hal ini sekaligus menjadi indikasi bahwa penindasan dan kekerasan terhadap perempuan sudah terjadi sejak berabad-abad silam dan terus berlangsung dalam beragam bentuknya hingga sekarang. Sekadar menyegarkan ingatan, di era Yunani Kuno perempuan diperlakukan sebagai makhluk tahanan yang bisa diperjualbelikan. Tak sebatas itu, perempuan dianiaya sampai dibunuh pun adalah hal yang biasa. Demikian halnya perempuan di masa Hindu sekitar abad ke-7 M. Perempuan diperlakukan sebagai sesajen bagi para dewa. Hak hidupnya bergantung sepenuhnya pada suami. Jika suaminya meninggal, ia pun turut dibakar dalam kondisi hidup-hidup berbarengan dengan saat pembakaran jenazah suaminya. Perlakuan menyedihkan juga dialami perempuan dalam tradisi Nasrani. Perempuan dianggap tidak memiliki ruh suci, bahkan dikonotasikan bahwa penciptaan perempuan semata-mata untuk melayani laki-laki. Ketertindasan perempuan yang tak kalah mengerikan juga ditemui dalam peradaban jahiliyah. Di tengah peradaban bobrok yang selalu memuja materi sebagai status sosial, perempuan nyaris tidak dipandang kecuali sebatas barang yang nista. Bahkan, bayi yang fitrah pun dihalalkan darahnya hanya gara-gara terlahir berjenis kelamin perempuan. Jika tidak, bayi perempuan itu bakal dikubur hidup-hidup tanpa diberi kesempatan untuk menikmati karunia hidup di dunia. Dengan kata lain, bayi laki-laki adalah lambang kebanggaan. Sebaliknya, bayi perempuan merupakan aib yang tak terperikan.</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <subject authority="">
  <topic>Wanita</topic>
 </subject>
 <classification>305.42</classification>
 <identifier type="isbn">979392196X</identifier>
 <location>
  <physicalLocation>PERPUSTAKAAN STFT WIDYA SASANA Jln. Terusan Rajabasa 2 Malang</physicalLocation>
  <shelfLocator>305.42 Yus b</shelfLocator>
  <holdingSimple>
   <copyInformation>
    <numerationAndChronology type="1">15530</numerationAndChronology>
    <sublocation></sublocation>
    <shelfLocator>305.42 Yus b</shelfLocator>
   </copyInformation>
  </holdingSimple>
 </location>
 <slims:image>Bersikap_Adil_Jender.jpg.jpg</slims:image>
 <recordInfo>
  <recordIdentifier>15809</recordIdentifier>
  <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2019-11-07 18:21:44</recordCreationDate>
  <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2021-01-16 10:36:21</recordChangeDate>
  <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
 </recordInfo>
</mods>
</modsCollection>