<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="15680">
 <titleInfo>
  <title>Awal Mulanya adalah Muntilan:</title>
  <subTitle>Misi Jesuit di Yogyakarta 1914-1940</subTitle>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Haryono, Anton</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Additional Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Yogyakarta</placeTerm>
   <publisher>Kanisius</publisher>
   <dateIssued>2009</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Text</form>
  <extent>272hlm; 15x21cm</extent>
 </physicalDescription>
 <note>Dalam konteks Indonesia, Yogyakarta tidak hanya istimewa bagi perjalanan bangsa dan negara, tetapi juga bagi Gereja Katolik. Daerah Yogyakarta merupakan tanah Misi paling subur di Jawa, yang tidak hanya tercermin dari pertumbuhan umat, tetapi juga dari kesuburan panggilan imamat dan hidup membiara. Dari daerah inilah untuk pertama kalinya di Indonesia muncul imam, biarawan dan biarawati pribumi. Bahkan kardinal pertama juga berasal dari daerah Yogyakarta. Dalam lintasan sejarahnya, banyak kader awam maupun biarawan-biarawati kelahiran Yogyakarta yang melakukan tugas kekaryaan dan merealisikan semangat misioner mereka di berbagai daerah di Indonesia. Ini semua merupakan buah dari kerja keras para biarawan Jesuit beserta eksponen-eksponen lain yang bersinergi dengannya dalam mengaktualisasikan pesan-pesan Injil melalui karya-karya sosial dan apresiasi-apresiasi kultural. Surga ditawarkan dengan merengkuh dunia secara kontekstual. Awal Mulanya Adalah Muntilan muaranya adalah kehidupan nyata yang lebih peduli dan berpengharapan. Kader-kader Gereja diperoleh kader-kader-kader bangsa pun didapat sedemikian rupa sehingga kelak di kemudian hari muncul semboyan  100 persen Katolik 100 persen Indonesia&quot;. Katolisitas yang tidak menggusur nasionalitas praktis telah dipikirkan dan diupayakan wujudnya di Yogyakarta pada awal 1920-an seiring dengan berdirinya PPKD. Di balik kejadian-kejadian &quot;istimewa&quot; tadi terdapat jaringan kompleks hubungan sebab-akibat yang terlalu mahal untuk dilewatkan begitu saja.&quot;</note>
 <subject authority="">
  <topic>misi kristiani</topic>
 </subject>
 <subject authority="">
  <topic>misiologi</topic>
 </subject>
 <classification>266</classification>
 <identifier type="isbn">9789792122374</identifier>
 <location>
  <physicalLocation>PERPUSTAKAAN STFT WIDYA SASANA Jln. Terusan Rajabasa 2 Malang</physicalLocation>
  <shelfLocator>266 Har a</shelfLocator>
  <holdingSimple>
   <copyInformation>
    <numerationAndChronology type="1">19347</numerationAndChronology>
    <sublocation></sublocation>
    <shelfLocator>266 Har a</shelfLocator>
   </copyInformation>
  </holdingSimple>
 </location>
 <slims:image>Awal_Mulanya_adalah_Muntilan.jpg.jpg</slims:image>
 <recordInfo>
  <recordIdentifier>15680</recordIdentifier>
  <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2019-11-07 18:21:44</recordCreationDate>
  <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2019-11-07 18:21:44</recordChangeDate>
  <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
 </recordInfo>
</mods>
</modsCollection>