<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="1307">
 <titleInfo>
  <title>Pekerdja di Djawa Tempo Doeloe</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Raap, Olivier Johannes</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Additional Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Yogyakarta</placeTerm>
   <publisher>Galang Pustaka</publisher>
   <dateIssued>2013</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Text</form>
  <extent>xviii + 190hlm; 21 x 25 cm</extent>
 </physicalDescription>
 <note>Ketika negara Republik Indonesia ini belum lahir, penduduk yang mendiami bumi nusantara ini sudah memiliki kebebasan untuk memilih pekerjaan sesuai dengan minat atau memang telah menjadi warisan leluhurnya. Sebagai jantung politik pemerintah Hindia Belanda sekaligus pusat industri, Pulau Jawa menjanjikan napas penghidupan yang panjang. Dalam buku ini, Oliver Johannes Raap, sang penulis, menuturkan setiap koleksi kartu posnya secara rinci, santun, bahkan tak jarang menggelitik. Lebih dari seratus lima puluh pekerja sudah dilakoni oleh masyarakat pada rentang akhir abad 19 hingga awal abad 20. Uniknya, tidak sedikit pekerjaan yang sudah punah, namun banyak juga yang bermetamorfosis. Sebut saja, penjual sutra keliling. Pada zamannya, pekerjaan itu boleh dibilang menjadi primadona kaum etnis Tionghoa, namun kini keberadaannya sudah tergilas zaman. Di sini, Oliver menjelaskan bahwa penjual seperti ini disebut  tukang kelontong. Kelontong adalah alat musik kecil yang berbunyi kalau diputar, yang pada zaman dahulu dipakai oleh pedagang keliling Tionghoa. Sungguh melalui kartu pos, kita bisa mengetahui banyak istilah ataupun riwayat sejarah yang belum diketahui. Seolah-olah, imajinasi kita dibawa ke masa lalu dan seolah-olah pula, waktu bisa kembali diputar lewat kartu pos.</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <subject authority="">
  <topic>Indonesia, sejarah</topic>
 </subject>
 <subject authority="">
  <topic>sejarah Indonesia</topic>
 </subject>
 <classification>959.8</classification>
 <identifier type="isbn">9786028174800</identifier>
 <location>
  <physicalLocation>PERPUSTAKAAN STFT WIDYA SASANA Jln. Terusan Rajabasa 2 Malang</physicalLocation>
  <shelfLocator>959.8 Raa p</shelfLocator>
  <holdingSimple>
   <copyInformation>
    <numerationAndChronology type="1">18336</numerationAndChronology>
    <sublocation></sublocation>
    <shelfLocator>959.8 Raa p</shelfLocator>
   </copyInformation>
  </holdingSimple>
 </location>
 <slims:image>Pekerdja_di_Djawa_Tempo_Doeloe.jpeg.jpeg</slims:image>
 <recordInfo>
  <recordIdentifier>1307</recordIdentifier>
  <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2019-11-07 18:21:44</recordCreationDate>
  <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2022-03-04 09:34:56</recordChangeDate>
  <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
 </recordInfo>
</mods>
</modsCollection>