<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="1303">
 <titleInfo>
  <title>Pelacuran di Indonesia:</title>
  <subTitle>Sejarah dan Perkembangannya</subTitle>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Hull, Terence H.</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Additional Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Sulistyaningsih, Endang</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Additional Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Jones, Gavin W.</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Additional Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Jakarta</placeTerm>
   <publisher>Pustaka Sinar Harapan</publisher>
   <dateIssued>1997</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Text</form>
  <extent>x + 157hlm: 15x22cm</extent>
 </physicalDescription>
 <relatedItem type="series">
  <titleInfo/>
  <title>Seri Kesehatan Reproduksi, Kebudayaan dan Masyarakat</title>
 </relatedItem>
</mods>
<note>Perdagangan jasa seksual sudah ada sejak lama dengan penyebaran dan pengorganisasiannya yang sangat bervariasi. Akibatnya, bentuk pelacuran heterosexual ini sulit dianalisis karena tidak tersedianya definisi yang tepat atau informasi yang benar mengenai komersialisasi industri seks ini. Dari berbagai macam dokumen diketahui bahwa jasa pelayanan seksual sudah bersifat semi komersial sejak dulu kala yang ditunjukkan dalam bentuk eksistensi istri kedua, perempuan simpanan atau selir. Sebetulnya aktivitas seksual sebagai transaksi komersial sulit ditemukan pada waktu itu, tetapi kemudian dengan berkembangnya kompleks-kompleks pelacuran yang diatur dengan peraturan pemerintah tertentu zaman kolonial hingga saat ini, aktivitas komersialisasi seksual tersebut dengan mudah dapat dideteksi. Pada akhir abad 19 dan awal abad 20 pemerintah berupaya mengendalikan aktivitas industri seks karena alasan penyebaran penyakit menular dan penolakan dari masyarakat. Upaya pemerintah untuk membatasi pelacuran tersebut terus berlangsung sejak zaman penjajahan Belanda, pemerintahan Jepang dan masa pasca kemerdekaan. Para pemimpin agama dan pemuka masyarakat bahkan menolak eksistensi pelacuran dengan alasan moral dan menghendaki ditutupnya kompleks-kompleks pelacuran di berbagai tempat.</note>
<note type="statement of responsibility"></note>
<subject authority="">
 <topic>pelacuran</topic>
</subject>
<classification>363.44</classification>
<identifier type="isbn">979416433X</identifier>
<location>
 <physicalLocation>PERPUSTAKAAN STFT WIDYA SASANA Jln. Terusan Rajabasa 2 Malang</physicalLocation>
 <shelfLocator>363.44 Hul p</shelfLocator>
 <holdingSimple>
  <copyInformation>
   <numerationAndChronology type="1">8759</numerationAndChronology>
   <sublocation></sublocation>
   <shelfLocator>363.44 Hul p</shelfLocator>
  </copyInformation>
 </holdingSimple>
</location>
<slims:image>Pelacuran_di_Indonesia.jpg.jpg</slims:image>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>1303</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2019-11-07 18:21:44</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2021-11-06 08:24:49</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>