<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="12010">
 <titleInfo>
  <title>Adat-adat Jawa dalam Bulan-bulan Islam, Adakah Pertentangan?</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Yahya, Ismail</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Additional Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Solo</placeTerm>
   <publisher>Inti Medina</publisher>
   <dateIssued>2009</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Text</form>
  <extent>xvi + 120hlm: 15x21cm</extent>
 </physicalDescription>
 <note>Setiap negara memiliki budaya, tidak terkecuali Indonesia. Budaya itu telah ada dan berkembang sebelum kedatangan Islam. Sebagai budaya, tentunya hal itu sangat dipertahankan oleh penduduknya, terlepas baik atau tidak, benar atau salah, bermanfaat atau tidak. Sebagaimana Islam datang sebagai agama yang meluruskan, ia pun ketika bersentuhan dengan budaya lokal tidak lantas ingin menghilangkan. Sebaliknya, ada banyak cara yang ditempuh, di antaranya mempertahankan budaya yang baik dan meluruskan yang kurang baik. Itu pun dilakukan tidak serentak, tetapi bertahap, fase demi fase. Metode itu pun dipahami baik oleh orang yang menyebarkan Islam di Indonesia. Di antaranya adalah yang dilakukan oleh Walisanga di Jawa. Dalam berdakwah, mereka lebih suka menggunakan pendekatan budaya lokal. Akan tetapi, estafet perjuangan Walisanga masih membutuhkan generasi baru. Masih banyak agenda yang perlu diselesaikan, seperti masih tersebarnya budaya dan ritual yang perlu dibenahi. Menata ulang kembali. Tidak hanya membenahi substansi-substansi, tetapi juga mencakup aturan dan praktik yang lebih selaras dengan nilai Islam. Dan untuk itulah buku ini ada.</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <subject authority="">
  <topic>filsafat Jawa</topic>
 </subject>
 <classification>181.16</classification>
 <identifier type="isbn">9789790720077</identifier>
 <location>
  <physicalLocation>PERPUSTAKAAN STFT WIDYA SASANA Jln. Terusan Rajabasa 2 Malang</physicalLocation>
  <shelfLocator>181.16 Yah a</shelfLocator>
  <holdingSimple>
   <copyInformation>
    <numerationAndChronology type="1">15611</numerationAndChronology>
    <sublocation></sublocation>
    <shelfLocator>181.16 Yah a</shelfLocator>
   </copyInformation>
  </holdingSimple>
 </location>
 <slims:image>Adat-adat_Jawa_dalam_Bulan.jpg.jpg</slims:image>
 <recordInfo>
  <recordIdentifier>12010</recordIdentifier>
  <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2019-11-07 18:21:44</recordCreationDate>
  <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2021-03-17 08:56:55</recordChangeDate>
  <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
 </recordInfo>
</mods>
</modsCollection>