<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="11161">
 <titleInfo>
  <title>Berkomunikasi dalam Nilai Hidup</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Surakhmad, Winarno</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Additional Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Bandung</placeTerm>
   <publisher>Tarsito</publisher>
   <dateIssued>1987</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Text</form>
  <extent>viii + 92hlm: 15x21cm</extent>
 </physicalDescription>
 <note>Mendidikkan sebuah nilai hidup tidak dapat dilakukan seperti sekadar menyuapkan makanan ke mulut. Apakah nilai hidup itu bersumber dari agama, ataukah berbentuk ideologi politik, ataukah nilai pergaulan bermasyarakat, ataukah nilai sopan santun, persoalan kependidikannya sama. Tidak ada nilai hidup yang bisa bertahan apabila ia diwariskan seperti halnya mewariskan sebuah keris. Sebegitu nilai tersebut diperlakukan sebagai benda (walaupun abstrak), seketika itu juga ia menjadi benda mati. Benda mati seperti itu tidak bisa dikembangkan. Tidak bisa menyesuaikan diri. Tidak peka. Tidak hidup, dan tidak menggairahkan. Ia cepat usang, lapuk dan tidak berguna. Bagaimanakah agar nilai itu menjadi hidup dalam diri setiap orang? Ia hanya bisa menjadi hidup, dan bisa terus hidup, apabila ia dihidupkan dan dihidupi! Ia perlu diperlakukan tidak sekadar sebagai benda, tetapi juga sebagai proses. Nilai hanya tumbuh melalui proses menilai. Menilai, nilai. Dan proses tersebut baru benar-benar berarti apabila ia tumbuh dari keterlibatan manusia secara sangat pribadi.</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <subject authority="">
  <topic>komunikasi</topic>
 </subject>
 <subject authority="">
  <topic>pendidikan moral</topic>
 </subject>
 <classification>302.2</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>PERPUSTAKAAN STFT WIDYA SASANA Jln. Terusan Rajabasa 2 Malang</physicalLocation>
  <shelfLocator>302.2 Sur b</shelfLocator>
  <holdingSimple>
   <copyInformation>
    <numerationAndChronology type="1">6443</numerationAndChronology>
    <sublocation></sublocation>
    <shelfLocator>302.2 Sur b</shelfLocator>
   </copyInformation>
  </holdingSimple>
 </location>
 <slims:image>Berkomunikasi_dalam_Nilai_Hidup.jpg.jpg</slims:image>
 <recordInfo>
  <recordIdentifier>11161</recordIdentifier>
  <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2019-11-07 18:21:44</recordCreationDate>
  <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2022-05-21 11:09:33</recordChangeDate>
  <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
 </recordInfo>
</mods>
</modsCollection>