<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="10463">
 <titleInfo>
  <title>Upaya Menjelmakan Injil ke dalam Kebudayaan (Tinjauan Berdasarkan John Mary Walligo dalam Terang Ensiklik Redemptoris Missio Art. 52-54 dan Relevansinya bagi Gereja Indonesia)</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Irwan, Andreas Setiadi</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Additional Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>2. Drs. Sarbini, M.Ag.</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Additional Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Malang</placeTerm>
   <publisher>STFT Widya Sasana</publisher>
   <dateIssued>2013</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Text</form>
  <extent>ix + 104hlm: 21x28cm</extent>
 </physicalDescription>
 <note>Inkulturasi menjadi salah satu segi yang tidak dapat dipisahkan dari karya pewartaan Gereja. Dengan inkulturasi, Gereja dapat berbicara dalam bahasa yang mudah dimengerti dan ditangkap oleh setiap bangsa di mana Injil diwartakan, sehingga kehadiran Gereja tidak lagi dipandang asing, namun sebagai bagian yang familiar dalam kehidupan bangsa itu sendiri. Maka, inkulturasi menjadi ujung tombak dalam karya pewartaan Gereja saat ini. Namun, kesadaran akan hal ini bukanlah berarti telah menyelesaikan segala masalah. Gereja tetaplah harus merumuskan suatu konsep inkulturasi yang tepat dan berdaya guna. Bagaimana Gereja harus melaksanakan inkulturasi? Pertanyaan ini kini menjadi begitu relevan, mengingat hingga kini pun, pelaksanaan inkulturasi belumlah mencapai suatu inkulturasi yang otentik. John Mary Walligo menawarkan suatu metode komprehensif yang kiranya dapat menjadi salah satu acuan Gereja dalam upayanya mewujudkan inkulturasi yang otentik. Salah satu butir yang menonjol dari metode yang digagasnya adalah penekanannya pada pentingnya membangun usaha inkulturasi yang tidak hanya didasarkan hanya pada para Gembala Gereja, namun justru yang harus didasarkan pada usaha yang dilakukan oleh seluruh Umat Allah. Dengan kata lain, setiap umat beriman dalam tubuh Gereja memiliki tanggung jawab yang sama dalam mewartakan karya keselamatan melalui inkulturasi. Penekanan yang diberikan Walligo ini kemudian semakin dipertegas lewat pernyataan ensiklik Redemptoris Missio art. 52-54 yang juga turut menekankan perlunya keterlibatan seluruh Umat Allah dalam upaya mencapai inkulturasi yang otentik. Selain tuntutan yang ditujukan kepada seluruh Umat Allah, beberapa hal penting lainnya yang ditekankan dengan tegas juga adalah perlunya pemahaman yang penuh atas kristianitas dan inkulturasi, kesesuaian dengan Gereja universal dan Injil. Lewat tulisan ini pula, penulis mencoba menyoroti upaya inkulturasi yang hingga kini telah dilaksanakan di Indonesia.</note>
 <subject authority="">
  <topic>misi Kristen</topic>
 </subject>
 <subject authority="">
  <topic>SKRIPSI 2013</topic>
 </subject>
 <classification>266</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>PERPUSTAKAAN STFT WIDYA SASANA Jln. Terusan Rajabasa 2 Malang</physicalLocation>
  <shelfLocator>266 IRW u</shelfLocator>
  <holdingSimple>
   <copyInformation>
    <numerationAndChronology type="1">09.000075</numerationAndChronology>
    <sublocation></sublocation>
    <shelfLocator>266 IRW u</shelfLocator>
   </copyInformation>
  </holdingSimple>
 </location>
 <slims:image>Cover_SKRIPSI_baru.jpg</slims:image>
 <recordInfo>
  <recordIdentifier>10463</recordIdentifier>
  <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2019-11-07 18:21:44</recordCreationDate>
  <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2019-11-07 18:21:44</recordChangeDate>
  <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
 </recordInfo>
</mods>
</modsCollection>