<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="10264">
 <titleInfo>
  <title>Uang, Rentenir dan Hutang Piutang di Jawa</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Nugroho, Heru</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Additional Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Yogyakarta</placeTerm>
   <publisher>Pustaka Pelajar</publisher>
   <dateIssued>2001</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Text</form>
  <extent>xvi + 265hlm: 14,5 x 21cm</extent>
 </physicalDescription>
 <note>Ada tiga hal yang dibahas dalam buku ini, yaitu uang, rentenir dan hutang piutang yang terjadi dalam masyarakat Jawa. Namun ketiga topik itu memiliki kaitan yang sangat erat sehingga dapat dikemas menjadi sebuah topik penulisan ilmiah dalam tradisi sosiologi ekonomi. Uang difahami oleh warga masyarakat tidak lagi sekedar alat satuan hitung, instrumen tukar menukar maupun komoditi yang dapat diperdagangkan, tetapi telah menjadi simbul kekuasaan yang dapat dimiliki secara personal. Karena kekuasaan itu begitu signifikan maka uang dapat membebaskan individu dari berbagai persoalan, baik ekonomi, sosial, dan kebudayaan. Akibat kekuasaan uang tersebut ada kecenderungan terjadi hasrat hunger for money untuk berbagai keperluan hidup. Rentenir merupakan salah satu agen informal yang menyediakan uang tunai bagi yang mengalami kekurangan uang. Dengan berpraktek jemput bola dalam bungkus kebudayaan yang ada para rentenir dapat menggaet para nasabahnya sehingga seolah-olah para nasabah terjebak dalam jeratan lintah darat dan perhambaan bunga. Namun salah satu yang tak pernah dibayangkan kalau praktek rentenir dalam masyarakat dihapuskan dapatkah kebutuhan uang tunai secara instan dapat dipenuhi oleh intitusi finansial formal?</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <subject authority="">
  <topic>sosiologi</topic>
 </subject>
 <classification>301</classification>
 <identifier type="isbn">9799483336</identifier>
 <location>
  <physicalLocation>PERPUSTAKAAN STFT WIDYA SASANA Jln. Terusan Rajabasa 2 Malang</physicalLocation>
  <shelfLocator>301 Nug u</shelfLocator>
  <holdingSimple>
   <copyInformation>
    <numerationAndChronology type="1">17681</numerationAndChronology>
    <sublocation></sublocation>
    <shelfLocator>301 Nug u</shelfLocator>
   </copyInformation>
  </holdingSimple>
 </location>
 <slims:image>Uang_Rentenir_dan_Hutang.jpg.jpg</slims:image>
 <recordInfo>
  <recordIdentifier>10264</recordIdentifier>
  <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2019-11-07 18:21:44</recordCreationDate>
  <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2020-11-24 09:57:15</recordChangeDate>
  <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
 </recordInfo>
</mods>
</modsCollection>