<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="10161">
 <titleInfo>
  <title>Tradisi Tena Laja:</title>
  <subTitle>Sebuah Proses Realisasi Diri Manusia Lamalera</subTitle>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>2. Pius Pandor, Lic.</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Additional Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>1. Sermada Kelen Donatus, M.A.</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Additional Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Weys, Yohanes</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Additional Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Malang</placeTerm>
   <publisher>STFT Widya Sasana</publisher>
   <dateIssued>2013</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Text</form>
  <extent>viii + 140hlm: 21x28cm</extent>
 </physicalDescription>
 <note>Kemajuan teknologi dan modernisasi dalam berbagai aspek kehidupan di satu sisi sangat membantu dan memudahkan hidup manusia namun di lain sisi  justru merusak alam dan habitatnya. Ditemukannya harpun dengan daya ledak tinggi dan kapal-kapal modern pemburu paus menjadi awal kehancuran dan perusakan alam dan perkembangan habitat ikan paus. Tradisi Tena Laja masyarakat nelayan Lamalera merupakan tradisi penangkapan ikan paus yang sangat ekologis dan dekat dengan alam. Artinya kesinambungan dengan kebutuhan alam pun diperhatikan. Orang Lamalera melihat alam sebagai subjek dan sumber kehidupan yang harus dijaga dan diolah sebab dari sanalah (alam-laut) mereka hidup. Karena itulah mengapa tradisi dan kebudayaan ini masih terus bertahan hingga kini. Tak lain karena proses realisasi diri manusia Lamalera dalam tradisi Tena Laja ini telah membentuk karakter dan kesadaran akan identitas dan relasi mereka dengan alam. Persoalan yang kemudian muncul tidak saja berkaitan dengan efek modernisasi terhadap ekosistem alam (ikan paus) tetapi juga berdampak pada lunturnya otensitas dan keutuhan tradisi Tena Laja sebagai warisan budaya leluhur. Tradisi budaya leluhur yang telah dihidupi berabad-abad ini, kini di ambang lenyap. Sebab modernisasi dan arus globalisasi yang tak terbendung ini telah menggunjang dan mengikis mentalitas kaum muda Lamalera sebagai penerus warisan budaya leluhur ini. Tradisi Tena Laja merupakan ungkapan realisasi diri manusia Lamalera. Di dalamnya mereka membentuk jaring-jaring kehidupan di antara mereka satu sama lain dalam Tena Laja (perahu), Lango Bele (rumah adat) dan Ola Nua (mata pencaharian di laut). Tena Laja menjadi ungkapan identitas mereka sebagai sebagai tubuh kolektif yang harus dihidupi dan dipelihara. Tradisi ini menjadi cetusan dari keseluruhan eksistensi orang Lamalera. Di mana mereka membangun kebudayaannya dalam aneka ritual adat yang ketat. Tena Laja sebagai tradisi leluhur menyimpan aneka makna filosofis  dan simbol kehidupan yang begitu kaya bila digali. Ia memiliki harmoni yang kuat dengan Tuhan, alam dan sesamanya serta ungkapan religiositas yang tinggi. Heroisme hidup nampak dalam pergulatan mereka bertarung dengan ikan paus di laut. Hidup dan mati adalah taruhannya. Semua itu demi Lefo tana (kampung halaman). Sayang sekali kekayaan budaya ini kurang menarik bagi kaum muda Lamalera. Karena itu, kaum muda Lamalera harus bangkit di tengah situasi krisis kebudayaan ini. Kebudayaan Tena Laja mereka di ambang lenyap. Jika mereka tidak mengenal nilai-nilai dan kebudayaan mereka ini, bagaimana mereka dapat mencintai dan meneruskannya. Mencintai lokalitas adalah panggilan untuk mempertahankan identitas diri. Kiat budaya harus terus-menerus dipupuk dalam diri kaum muda agar warisan budaya leluhur ini terselamatkan.</note>
 <subject authority="">
  <topic>SKRIPSI 2013</topic>
 </subject>
 <subject authority="">
  <topic>Kebudayaan Lamalera</topic>
 </subject>
 <classification>959.86</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>PERPUSTAKAAN STFT WIDYA SASANA Jln. Terusan Rajabasa 2 Malang</physicalLocation>
  <shelfLocator>959.86 WEY t</shelfLocator>
  <holdingSimple>
   <copyInformation>
    <numerationAndChronology type="1">09.000038</numerationAndChronology>
    <sublocation></sublocation>
    <shelfLocator>959.86 WEY t</shelfLocator>
   </copyInformation>
  </holdingSimple>
 </location>
 <slims:image>Cover_SKRIPSI_baru.jpg</slims:image>
 <recordInfo>
  <recordIdentifier>10161</recordIdentifier>
  <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2019-11-07 18:21:44</recordCreationDate>
  <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2019-11-07 18:21:44</recordChangeDate>
  <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
 </recordInfo>
</mods>
</modsCollection>